Home » » Kolonialiasme Portugis di Maluku

Kolonialiasme Portugis di Maluku


 Pada tahun 1509 Diego Lopes de Sequeira orang Portugis yang diutus oleh Raja Portugis tiba di Malaka. Pada saat itu, Malaka dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah. Pertama orang Portugis disambut baik oleh Sultan Mahmud Syah, kemudian Sultan Mahmud berbalik melawan Sequiera.


Pada tahun 1511, Alfonso d'Albuquerque dari Goa (India) berlayar menuju Malaka. Sultan Mahmud diperangi hingga akhirnya Malaka dapat ditaklukkan oleh Poertugis. Setelah menaklukkan Malaka Albuquerque kembali ke Goa. Sebagai gantinya di Malaka Albuquerque menunjuk Francisco Serrao sekaligus sebagai pemimpin mencari kepulauan rempah-rempah.

Pada tahun 1512, setelah menaklukkan Malaka, Portugis menuju Maluku. Pemimpin Portugis ke Maluku adalah  Antonio d'Abreau. Tujuannya adalah menopoli perdagangan rempah-rempah. Untuk mencapai tujuannya itu Portugis memanfaatkan persaingan antara Ternate dan Tidore. Tidore waktu itu didukung oleh Spanyol, karena itu Portugis segera mengambil kesempatan untuk membantu Ternate.

Pada tahun 1512, pada tahun ini pula Francisco Serrao mencapai Pulau Hitu (sebelah Utara Ambon) Portugis membantu Hitu yang bersaing dengan Seram.

Pada Tahun 1522, Portugis dan Ternate mengadakan persekutuan dengan Ternate. Portugis kemudian diijinkan pula mendirikan benteng Santo Paolo di Ternate.

Pada Tahun 1565, Ternate menyerang benteng Santo Paolo, hal ini disebabkan karena Portugis lambat laun ingin menguasai perdagangan dengan cara memonopoli perdagangan rempah-rempah dan Portugis ingin menkristenisasi rakyat Ternate yang memeluk Islam. Pertentangan semakin memuncak dan rakyat semakin marah ketika Portugis berhasil menahan Sultan Hairun dan menjatuhinya hukuman mati. Perlawanan dilanjutkan oleh putera Sultan Hairun, yaitu  Sultan Baabullah. Akhirnya pada tahun 1575, setelah perang selama lima tahun Sultan Baabullah berhasil mengalahkan Portugis dan mengusirnya dari Ternate. Portugis melarikan diri ke Tidore dan mendirikan benteng disana pada tahun 1578. Portugis sempat mendirikan dua benteng di tidore yakni benteng Tohulu dan Toware. Tapi dihancurkan oleh Belanda pada abad 17 atau sekitar tahun 1652, dalam usah Belanda menguasai rempah-rempah di Maluku.

Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 10/27/2013

0 komentar:

Post a Comment