Home » » Kenali Gejala Gangguan Konsentrasi Pada Anak Anda

Kenali Gejala Gangguan Konsentrasi Pada Anak Anda

Kenali Gejala Gangguan Konsentrasi Pada Anak  Anda
Sumber: http://growupclinic.com

Kenali Gejala Gangguan Konsentrasi Pada Anak AndaPada beberapa anak terkadang kita jumpai seorang anak tidak dapat memusatkan perhatiannya pada apa yang sedang dihadapi. Hal ini akan menyulitkan anak di dalam mengikuti mata pelajaran di sekolah dan mungkin juga bisa mengganggu teman dan gurunya di dalam kelas, karena ketidakmampuan dalam memusatkan perhatian tersebut dibarengi dengan gerak anggota tubuh yang sangat aktif, tidak bisa tahan untuk diam. 

Oleh para ahli, perilaku di atas tersebut dikenal dengan nama Attention Deficit Hyperactive Disordes (ADHD). Gangguan ADHD ini mulai terkenal sejak dua puluh tahun terakhir ini oleh para dokter. 

Apa yang dimaksud dengan ADHD? 

Attention Deficit Hyperactive Disordes (ADHD) merupakan gangguan pemusatan perhatian. Gangguan ini ditandai dengan adanya ketidakmampuan anak untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu yang dihadapi, sehingga rentang perhatiannya sangat singkat waktunya dibanding dengan anak yang seusia, biasanya disertai dengan gejala hiperaktif dan tingkah laku yang inpulsif. Kelainan ini dapat mengganggu perkembangan anak dalam hal kognitif, perilaku, sosialisasi maupun komunikas.

Sudah menjadi keharusan bagi orang tua untuk selalu memperhatikan perilaku anaknya, kalau ada gejala yang mencurigakan tentang perilaku anak, datang dan berkonsultasilah pada dokter ahli tentang gejala tersebut. Ini dimaksudkan untuk meminimalkan gejala dan akibat yang ditimbulkan dikemudian hari. Dokter umum, dokter spesialis anak dan klinisi lainnya yang berkaitan dengan kesehatn anak harus bisa mendeteksi sejak dini faktor resiko dan gejala yang terjadi. Manifestasi klinis yang terjadi dapat timbul pada usia dini namun gejalanya akan tampak nyata pada saat mulai sekolah melakukan anamnesa terhadap orang tua dan guru, guna mengevaluasi perkembangan dan mengarahkan pola pendidikan dan pengasuhan anak dengan hiperaktif bila dapat dilakukan deteksi dini dan penatalaksanaan pada tahap awal. 

Gangguan Konsentrasi Pada Anak normal

 
Pada anak normal seringkali menunjukkan tanda-tanda: kurang perhatian, mudah teralihkan perhatiannya, emosi yang meledak-ledak bahkan aktifitas yang berlebihan. Hanya saja pada anak dengan kelainan gangguan konsentrasi, gejala-gejala ini lebih sering muncul dan lebih berat kualitasnya dibandingkan anak normal seusianya. 

Tanda Gejala Umum Gangguan Konsentrasi Pada Anak normal sejak usia bayi

  • Pada bayi bila memegang mainan sering berpindah ke mainan lain sangat cepat.
  • Saat minum ASI sering mendadak menghentikan minumnya ketika ada suara atau ada hal yang menarik lainnya
  • Tangan dan kaki banyak bergerak tidak mau digendong

Pada anak yang lebih besar 

  • Sering bengong atau melamun
  • Kaki sering banyak bergoyang dan bergerak ketika duduk dan berebah hendak tidur
  • Bila mewarnai gambar terburu-buru dan tidak rapih
  • Sering kehilangan barang atau tertinggal barang di sekolah
  • Sering mengalami kesalahan ringan saat mengerjakan ulangan atau tes di sekolah. Kesalahan tersebut hanya kurang huruf atau kurang teliti padahal sebenarnya hal sangat mudah.
  • Bila belajar sulit sering beralasan sudah bisa dan “capek”
  • Belajar sering tidak tekun atau sering meremehkan atau menggampangkan pelajaran
  • Bila dipanggil harus berulang kali baru menoleh
  • Tetapi kebalikkannya saat menonton televisi, baca komik atau main game sangat lama dan tekun
  • Pada umumnya anak cerdas tetapi prestasi di sekolah tidak optimal
  • Jarang mau antri lama, bila antri lama sering gelisah
Pola perhatian anak terhadap suatu hal terbagi menjadi beberapa klasifikasi. Kelompok yang paling berat adalah over ekslusif dimana seorang anak hanya terfokus pada sesuatu yang menarik perhatiannya tanpa mempedulikan hal lain secara ekstrem (misalnya pada bayi yang sedang memperhatikan kancing bajunya dan tidak mempedulikan rangsangan lain), pola ini disebut autis. Kelompok dengan derajat sedang terjadi fokus perhatian anak mudah teralihkan. Perhatian hanya mampu bertahan beberapa saat saja oleh suatu rangsangan lain yang mungkin tidak adekuat. Hal ini dinamakan kesulitan perhatian (attention deficit hyperactivity disorder). Kondisi normal adalah pola yang paling baik karena anak mampu memperhatikan sesuatu dan mengalihkannya terhadap yang lain pada saat yang tepat tanpa kehilangan daya konsentrasi, pola ini merupakan pola normal perkembangan mental anak secara matang. 

Definisi hiperaktifitas adalah suatu peningkatan aktifitas motorik hingga pada tingkatan tertentu yang menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi, setidaknya pada dua tempat dan suasana yang berbeda. Aktifitas anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan yang ditandai dengan gangguan perasaan gelisah, selalu menggerak-gerakkan jari-jari tangan, kaki, pensil, tidak dapat duduk dengan tenang dan selalu meninggalkan tempat duduknya meskipun pada saat dimana dia seharusnya duduk degan tenang.. Terminologi lain yang dipakai mencakup beberapa kelainan perilaku meliputi : perasaan yang meletup-letup, aktifitas yang berlebihan, suka membuat keributan, membangkang dan destruktif yang menetap. 

Temperamen seorang anak adalah suatu karakteristik yang hidup dan dinamis, meski terkadang pada seorang anak lebih dinamis dibandingkan anak lain. Bila terjadi peningkatan aktifitas motorik yang berlebihan pada seorang anak dibandingkan anak lain sebayanya, maka sering kali ‘si-anak’ dikeluhkan sebagai hiperaktif oleh orang tuanya. Penilaian semacam ini sangat subyektif dan tergantung dari standar yang dipakai oleh orang tua dalam menilai tingkat aktifitas normal seorang anak. Anggapan bahwa si-anak ‘hiperaktif’ mungkin tidak tepat jika hanya karena si-anak menunjukkan tanda-tanda ‘nakal’ dan ‘bikin ribut’ pada saat tertentu tetapi secara keseluruhan menunjukkan aktifitas yang normal. Dalam hal ‘anak-ini’ justru kepada orang tuanya yang harus diberikan pengertian dan pengetahuan tentang bagaimana membimbing dan mengarahkan secara benar seorang anak dengan pola perilaku yang ‘menurut orang tua’ berlebihan.

FAKTOR RESIKO

  • Beberapa peneliti menyebutkan penyebab terjadinya gangguan konsentrasi adalah adanya gangguan otak yang diakibatkan oleh trauma primer dan trauma yang berulang pada tempat yang sama (invariable). Gangguan susunan saraf pusat tersebut meliputi terjadinya kelainan perkembangan yang ditandai dengan penyimpangan struktural dari bentuk normal oleh karena sebab yang bermacam-macam selain oleh karena trauma. Kerusakan (damage) susunan saraf pusat (SSP) secara anatomis seperti halnya yang disebabkan oleh infeksi, alergi, perdarahan dan hipoksia. Gangguan lainnya terjadi malfungsi tanpa disertai perubahan struktur dan anatomis yang jelas, menyebabkan terjadinya hambatan stimulus atau justru timbulnya stimulus yang berlebihan yang menyebabkan penyimpangan yang signifikan dalam perkembangan hubungan anak dengan orang tua dan lingkungan sekitarnya.
  • Dalam melakukan deteksi dini gangguan perilaku ini maka perlu diketahui faktor resiko yang bisa mengakibatkan gangguan konsentrasi. Banyak bukti penelitian yang menunjukkan peranan disfungsi Susunan saraf pusat (SSP). Sehingga beberapa kelainan dan gangguan yang terjadi sejak kehamilan, persalinan dan masa kanak-kanak harus dicermati sebagai faktor resiko.
  • Selama periode kehamilan, disfungsi SSP disebabkan oleh gangguan metabolik, genetik, infeksi, intoksikasi, obat-obatan terlarang, perokok, alkohol dan faktor psikogenik. Penyakit diabetes dan penyakit preeklamsia juga harus dicermati.
  • Pada masa persalinan, disebabkan oleh: prematuritas, post date, hambatan persalinan, induksi persalinan, kelainan letak (presentasi bayi), efek samping terapi, depresi sistem immun dan trauma saat kelahiran normal.
  • Sedangkan periode kanak-kanak harus dicermati gangguan saluran cerna kronis, infeksi, trauma, terapi medikasi, keracunan, gangguan metabolik, gangguan vaskuler, faktor kejiwaan, keganasan dan terjadinya kejang. Riwayat kecelakaan hingga harus dirawat di rumah sakit,kekerasan secara fisik, verbal, emosi atau merasa diterlantarkan. Trauma yang serius, menerima perlakuan kasar atau merasa kehilangan sesuatu selama masa kanak-kanak, tidak sadar diri atau pingsan.
  • Gangguan saluran cerna yang disebabkan karena alergi dan hipersensitif makanan sering dapat menimbulkan gangguan konsentrasi yang ringan. Tetapi dalam kasus penderita ADHD gangguan ini sebagai salah satu faktor resiko yang memperberat gejalanya.
Untuk lebih jelas dan lengkapnya silahkan kunjungi sumber tulisan ini:
http://growupclininc.com dengan title: Gangguan Konsentrasi Ancam Anak Sekolah

Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 5/07/2014

0 komentar:

Post a Comment