Home » » PERSAINGAN DALAM HUBUNGAN DISSOSIATIF

PERSAINGAN DALAM HUBUNGAN DISSOSIATIF

PERSAINGAN DALAM HUBUNGAN DISSOSIATIF

PERSAINGAN DALAM HUBUNGAN DISSOSIATIF


Dalam hubungan sosial yang cenderung mengarah ke pertentangan dan perpecahan (dissosiatif), kita mengenal istilah persaingan atau kompetisi. Persaingan bisa mengarah kepada dua keadaan, yaitu persaingan sehat, seperti persaingan untuk mendapat tempat teratas dalam perlombaan-perlombaan bidang olah raga, dan peraingan tidak sehat, seperti persaingan untuk mendapatkan sesuatu dengan segala cara untuk mengalahkan bahkan menghancurkan pesaingnya.

Persaingan yang sehat akan memberikan efek-efek yang positif bagi para pelakunya, sebagaimana pernah dikatakan oleh Charles H. Cooley.

"Apabila persaingan dilakukan secara jujur maka ia akan dapat mengembangkan rasa sosial dalam diri seseorang. Karena orang yang bersaing berusaha untuk mengetahui dan mengenal lawannya dengan baik, antara lain ingin mengetahui sifat-sifat, cara kerja, dan perilaku lawannya. Oleh karena itu persaingan dapat memperluas pandangan pengertian serta pengetahuannya dan juga perasaan simpati seseorang", demikian kata Charles H. Cooley.

Ke arah yang positif inilah hendaknya persaingan dibawa, sehingga tidak terjadi perpecahan dan permusuhan yang dapat berdampak buruk terhadap akitivitas dan tujuan yang ingin dicapai. Untuk itu walau dalam persaingan sekalipun nilai dan norma harus tetap dikedepankan.

PENGERTIAN DAN PENYEBAB TIMBULNYA PERSAINGAN


Di dalam kontek ilmu sosial, persaingan dapat diartikan sebagai suatu proses sosial dimana seseorang atau sekelompok orang berlomba-lomba untuk medapatkan tujuannya dengan cara mengalahkan orang atau kelompok lain, baik dengan cara-cara yang baik atau sehat, maupun dengan menggunakan segala cara yang tidak sehat.

Dari pengertian yang kita paparkan itu, persaingan terjadi karena adanya perlombaan untuk mendapatkan suatu keuntungan yang lebih dari orang atau kelompok lain. Ini bisa terjadi karena yang diinginkan oleh sekelompok orang itu jumlahnya terbatas. Untuk gampangnya kita kasih  satu contoh persaingan dalam memperebutkan peringkat atau rangking pertaman di kelas.

Namun pada dasarnya persaingan timbul karena ada perasaan atau anggapan seseorang bahwa ia akan lebih beruntung jika tidak bekerja sama dengan orang lain, yang dianggapnya dapat memperkecil dari hasil usaha yang dilakukan. Jadi sifat ego juga memiliki andil yang besar untuk memicu terjadinya persaingan atau kompetisi ini.

BENTUK-BENTUK PERSAINGAN


Ada banyak bentuk atau wujud dari persaingan atau kompetisi ini yang dapat kita lihat dan muncul di tengah-tengah masyarakat, baik yang dilakukan oleh antar individu atau antar kelompok, karena semakin kompleks dan beragamnya aktivias yang dilakukan oleh manusia. Di antaranya yang dapat kita sebutkan di sini, sebagai berikut:

1. Persaingan dibidang ekonomi.


Persaingan di bidang ekonomi terjadi karena banyaknya produk sejenis yang ditawarkan oleh berbagai perusahaan kepada konsumen pada segmen (target) pasar tertentu. Dalam hal ini perusahaan akan melakukan penawaran terbaik untuk merebut pasar, sehingga perusahaan mendapatkan keuntungan yang maksimal. Dalam merebut pasar atau konsumen ini seringkali perusahaan-perusahaan skala besar melakukan praktek monopoli.

2, Persaingan kebudayaan.


Kebudayaan merupakan simbol keberadaban dan kemajuan suatu bangsa. Negara yang maju biasanya identik dengan kemajuan budaya yang dimilikinya. Kemajuan menyangkut segala aspek baik pendidikan dan teknogi, agama, adat istiadat, pakain, perilaku, akal, karsa, rasa dan lainnya. Wujud dari persaingan ini, misalnya perlombaan di bidang teknologi militer untuk medapatkan pengaruh dari bangsa lain.

3. Persaingan untuk mendapatkan kedudukan dan peranan tertentu di dalam masyarakat.


Persaingan jenis ini juga umum terjadi di masyarakat kita. Persaingan ini timbul karena ada perasaan ego yang kuat pada diri seseorang atas kemampuannya yang lebih baik dari orang yang berkedudukan di atasnya. Hal ini menjadi dorongan yang kuat untuk mendapatkan kedudukan atau peranan yang sama dengan seseorang yang berada di atasnya tersebut. Ini bisa kita lihat contohnya pada persaingan pilpres dan pemilukada.

4. Persaingan karena perbedaan ras.


Persaingan ini sebenarnya masih dalam ranah kebudayaan. Namun persaingan ini lebih mengarah kepada persaingan yang timbul karena terdapatnya perbedaan ciri-ciri fisik seperti warna kulit, bentuk tubuh, dan corak rambut. Pada masyarakat yang sangat heterogen (beragam) akan terasa sekali bentuk persaingan macam ini. Sehingga kita sering melihat kelompok-kelompok ras tertentu di kalangan masyarakat di dalam satu kota misalnya.

FUNGSI-FUNGSI PERSAINGAN


Kata banyak orang, persaingan akan mampu mendorong atau memotivasi orang untuk lebih cerdas dan lebih kreatif. Dan pendapat ini benar sekali, selama persaingan itu tetap berjalan pada rel yang baik dan sehat, artinya selama persaingan ini dilandasi dengan nilai dan norma yang diterima masyarakat. Bukan dengan main seruduk dan bukan dengan menghalalkan segala cara yang merusak.

Untuk lebih jelasnya mari kita lihat beberapa fungsi dari persaingan atau kompetisi tersebut:
  • Kompetisi dapat menyalurkan hasrat individu atau kelompok secara kompetitif untuk mendapatkan penghargaan. Misalnya dalam pertandingan olahraga, seni, dan sebagainya.
  • Untuk menyalurkan keinginan, kepentingan, dan nilai-nilai yang menjadi pusat perhatian bagi yang bersaing. Misalnya, adanya penemuan teknologi baru.
  • Sebagai alat untuk mengadakan seleksi. Dari hasil seleksi dapat diketahui kedudukan dan peranan sesuai dengan kemampuannya. Misalnya, seleksi pelajar berprestasi, seleksi mahasiswa berprestasi, dan sebagainya.

KESIMPULAN


Persaingan akan tetap dan terus terjadi dalam masyarakat karena adanya dorongan yang kuat untuk lebih baik dan lebih maju dari yang lainnya. Persaingan dapat dilakukan oleh antar individu dan juga antar kelompok (misal perusahaan). Selama persaingan dilakukan dengan baik atau sehat, maka persaingan tersebut akan mampu meningkatkan kualitas bagi para pelakunya. Maka hendaknya ke arah yang positif ini saja persaingan dilakukan bukan mengarah kehubungan dissosiatif.

BACA JUGA : PROSES SOSIAL DISSOSIATIF






Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 12/05/2015

0 komentar:

Post a Comment