Teori Ketergantungan Dalam Strategi Pembangunan Ekonomi

Teori ketergantungan muncul dari pertemuan ahli-ahli ekonomi Amerika Latin pada tahun 1965 di Mexico City. Strategi dari teori ketergantungan adalah memilih menghilangkan penyebab ketergantungan itu. Inti teori ini mau menjelaskan dasar-dasar kemiskinan yang diderita oleh negara-negara sedang berkembang, khususnya negara-negara Amerika Latin. Menurut tokoh-tokoh teori ketergantungan, kemiskinan di negara sedang berkembang disebabkan adanya ketergantungan, pada pihak luar. Oleh karena itu, pembangunan sebagai upaya masyarakat untuk melepaskan diri dari keterbelakangan yang disebabkan oleh ketergantungan itu, haruslah merupakan pembebasan masyarakat dari rantai yang membelenggu struktur yang eksploitatif. Struktur eksploitatif tersebut dapat dilihat dengan jelas dalam pola struktur ekonomi kolonial.

Dengan mengambil contoh Indonesia, pada zaman kolonial ekonomi Indonesia diwarnai oleh suatu strategi yang melahirkan suatu dualisme dalam kegiatan ekonomi, yaitu dualisme antara sektor ekspor (enclave) dan sektor tradisional (hinterland). Sektor ekspor diwakili dengan kehadiran perkebunan-perkebunan di daerah pedesaan. Pendirian perkebunan di daerah pedesaan pada dasarnya hanya bertumpu pada lokasi yang tanahnya subur, iklim yang cocok. Pertimbangan penciptaan kesempatan kerja atau menaikkan kesejahteraan masyarakat hinterland tidak ada. Saling ketergantungan antara sektor ekonomi ekspor dan sektor pasar dunia diperkuat dengan suatu proteksi pemerintah kolonial sehingga kedua sektor itu hidup terpisah dari sektor tradisional.

Teori ketergantungan ini dikritik oleh Kothari dengan mengatakan: "....teori ketergantungan itu memang cukup relevan, tetapi sayangnya telah menjadi semacam dalih terhadap kenyataan kurangnya usaha untuk membangun masyarakat sendiri (selfdevelopment). Sebab selalu akan gampang sekali bagi kita untuk menumpahkan semua kesalahan pada pihak luar yang memeras, sementara pemerasan yang terjadi di dalam lingkungan masyarakat kita sendiri dibiarkan saja...." (Kothari dalam Ismid Hadad, 1980).

Yang menarik dari teori ketergantungan ini adalah munculnya istilah dualisme utara - selatan, desa - kota, coreperiphery yang pada dirinya mencerminkan adanya pemikiran pembangunan yang berwawasan ruang.

Pembangunan yang berwawasan ruang (ekonomi regional) tersirat secara nyata dalam argumentasinya Myrdall dan Hirschman, yang mengemukakan sebab-sebab kurang mampunya daerah miskin berkembang secepat seperti yang terjadi di daerah yang lebih kaya. Kurang maju dan kurang mampunya daerah-daerah miskin untuk membangun dengan cepat disebabkan pula oleh terdapatnya beberapa keadaan yang disebut Myrdall dengan istilah back-wash effects, yang menyebabkan daerah miskin menghadapi lebih banyak hambatan dalam mengembangkan ekonominya. Dalam pembangunan daerah kaya memang ada spread-effects (pengaruh menyebar), tetapi pada umumnya spread-effects yang terjadi adalah jauh lebih lemah dari back-wash effects-nya sehingga secara keseluruhan pembangunan daerah yang lebih kaya akan memperlambat jalannya pembangunan di daerah miskin. Bedanya pandangan Myrdall dan Hirschman adalah Myrdall tidak percaya keseimbangan antara daerah kaya dan daerah miskin akan tercapai, sedangkan Hirschman percaya bahwa keseimbangan itu pada akhirnya akan tercapai dalam jangka pangang.

Sumber: Perekonomian Indonesia (Buku Panduan Mahasiswa)
oleh: Drs. P.C. Suroso, M.Sc
Penerbit PT. Gramedia Pusataka Utama, Jakarta 1997


Comments