Azanul Ahyan

Perlawanan Rakyat Aceh Melawan Belanda

Perlawanan Rakyat Aceh Melawan Belanda
Sebelumnya, saya sudah membahas sebuah bab yang berjudul Perlawanan Bangsa Indonesia, dan artikel yang sedang Anda baca ini merupakan kelanjutan dari materi tersebut.

Untuk itu Baca Juga: Perjuangan Bangsa Indonesia.


Perlawanan Rakyat Aceh Melawan Penjajah Belanda


Perang Aceh ini merupakan peperangan yang berlangsung lama karena didukung secara fanatik oleh seluruh rakyat Aceh. Perang tidak hanya dihayati sebagai membela kerajaan, tetapi juga membela agama.

Perlawanan rakyat Aceh ini terus berlanjut, meskipun Belanda merebut Istana Kutaraja pada tahun 1877. Perang Aceh ini berlangsung dari tahun 1873 sampai tahun 1904.


Penyebab Terjadinya Perang Aceh


Pada tahun 1871, Inggris dan Belanda menandatangani perjanjian yang dikenal dengan Traktat Sumatra (Treaty of Sumatra).

Isi dari perjanjian Traktat Sumatra ini adalah Inggris memberikan kebebasan kepada Belanda untuk mengadakan perluasan ke seluruh Sumatra.

Perjanjian ini, membuka kesempatan bagi Belanda untuk mulai melakukan intervensi ke kerajaan Aceh.

Sementara bagi Aceh sendiri, lahirnya Traktat Sumatra ini, membuat Kesultanan Aceh berusaha memperkuat diri untuk menghadapi kemungkinan serangan Belanda dengan menjalin hubungan diplomatik dan militer dengan negara-negara lain, terutama dengan Kesultanan Turki.

Pada tanggal 22 Maret 1871, Belanda mengutus F.N. Nieuwenhusyen untuk menemui Sultan Aceh, Muhammad Daud Syah. Ia menyampaikan surat yang berisi permintaan agar Aceh mengakui kedaulatan Hindia Belanda di wilayahnya.

Dua tahun kemudian, Belanda, pada tanggal 26 Maret 1873, menyatakan perang terhadap Kesultanan Aceh kerena Kesultanan Aceh tetap menolak dengan keras untuk mengakui kedaulatan Belanda di wilayahnya.

Kontak pertama pun berlangsung, antara 3.000 tentara Belanda yang datang dengan kapal-kapal perang di bawah pimpinan Mayor Jenderal Kohler, dengan prajurit dan para ksatria Kesultanan Aceh.

Para pemimpin rakyat Aceh tersebut antara lain, Tengku Cik Ditiro (seorang ulama yang mengobarkan jihad), Panglima Polim, Teuku Cik Peusangan, Cut Mutia, Teuku Umar, dan istrinya Cut Nyak Dien.

Serangan pertama Belanda ini terjadi pada tanggal 5 April 1873. Sasaran serangan mereka yang pertama adalah Masjid Raya Baiturrahman di ibu kota Aceh.

Tentu saja para pejuang Aceh membalas serangan Belanda dengan sengit, tanpa mengenal kata menyerah.

Dalam pertempuran ini, pada tanggal 14 April 1873, pemimpin tentara Belanda, Mayjen. J.H.R. Kohler tewas di perkarangan masjid besar tersebut. Tewasnya panglima militer Belanda ini, menandakan kegagalan pertama Belanda menguasai Aceh.

Di bulan November pada tahun yang sama, Belanda kembali menyerang untuk kedua kalinya.

Kali ini Belanda mengerahkan tidak kurang dari 13.000 orang tentara, di bawah komando Letnan Jenderal van Swieten.

Serbuan Belanda di bawah pimpinan Letjen Swieten ini, disambut oleh laskar Aceh dengan tembakan senapan dan meriam bertubi-tubi.

Akhirnya, Belanda berhasil juga merebut Kutaraja (ibu kota Kesultanan Aceh) setelah lebih dari dua minggu pertempuran berkobar dengan hebat.

Istana pun berhasil direbut dan dikuasai Belanda. Namun, Sultan dan keluarganya berhasil menyelamatkan diri ke Leungbata.

Dengan jatuhnya istana, Belanda mengira perlawanan rakyat Aceh akan berakhir. Keyakinan ini semakin kuat, apalagi setelah van der Heyden menundukkan Aceh Raya. Atas dasar ini, mereka kemudian membentuk pemerintahan sipil di Aceh.

Namun ternyata, di luar istana, para teuku (bangsawan) dan tengku (ulama) terus menggembleng dengan semangat jihad kepada rakyat. Mereka hanya menunggu saat yang tepat untuk menyerbu Belanda.

Pada masa itulah, muncul Teuku Umar dan istrinya, Cut Nyak Dien, ikut melakukan perlawanan terhadap penjajah ini.

Sementara itu, dipihak Belanda terjadi pergantian pimpinan dari Jenderal van Swieten kepada Jenderal Pel.

Ia berusaha memperkuat pertahanan dengan membangun sejumlah pos di Kutaraja, Krueng Aceh, dan Meuraksa.

Tanpa diduga sebelumnya, secara tiba-tiba laskar Aceh menerobos blokade Belanda dan melancarkan serangan hebat. Akibat serangan ini, pada 24 Februari 1876, Jenderal Pel tewas di daerah Tonga.

Kematian jenderal mereka ini, mengakibatkan pemerintahan Hindia Belanda merasa sangat terpukul. Dan segera mengirimkan ribuan pasukan dengan dukungan sejumlah kapal perang.

Walaupun begitu, Belanda tetap kesulitan dan menemukan kegagalan dalam menghadapi perlawanan rakyat Aceh ini.

Untuk menghadapi perjuangan rakyat Aceh yang semakin hebat ini, Belanda menerapkan suatu siasat yang disebut siasat pemusatan (konsentrasi stelsel) yaitu sistem garis pemusatan di mana Belanda memusatkan pasukannya di benteng-benteng sekitar kota termasuk Kotaraja.

Dengan demikian, Belanda tidak melakukan serangan ke daerah-daerah tetapi cukup mempertahankan kota dan pos-pos sekitarnya. Siasat ini pun gagal mematahkan perlawanan rakyat Aceh.

Kemudian atas usul Jenderal Deykerhoff, politik adu domba pun dilancarkan juga oleh Belanda.

Ketika inilah, Teuku Umar melakukan siasat dengan berpura-pura menyerah kepada Belanda. Ia menyatakan diri tunduk dan setia pada pemerintah kolonial Hindia Belanda sejak Agustus 1893.

Belanda amat senang menerima kehadiran Teuku Umar dan menempatkannya dalam sebuah dinas militer. Teuku Umar dipercayai memimpin sebuah pasukan yang berkekuatan 250 prajurit. Dari kolonial ia kemudian mendapat gelar Teuku Johan Pahlawan.

Siasat tersebut dilakukan oleh Teuku Umar sebagai taktik masyarakat Aceh untuk mendapatkan persenjataan dan strategi perang Belanda.

Tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar secara terang-terangan menyatakan diri keluar dari dinas militer Belanda dan menggalang kembali persatuan dan perlawanan terhadap Belanda.

Lagi-lagi, siasat Belanda, adu domba menemukan kegagalan pula.

Setelah berpikir cukup keras, akhirnya Belanda meminta bantuan dan memerintahkan kepada DR.  Snouck Hurgronje yang paham agama Islam untuk mengadakan penelitian tentang kehidupan dan budaya masyarakat Aceh.

Orang ini kemudian menyamar sebagai ulama yang bernama Abdul Gafar.

Akhirnya DR.  Snouck Hurgronje berhasil mengetahui kelemahan masyarakat Aceh dan hasil penelitiannya ini ditulis dalam buku yang berjudul De Atjehers.

Dalam bukunya itu, ia menyarankan agar pemerintah Belanda menggunakan siasat kekerasan dalam menghadapi perlawanan rakyat Aceh. Dan pemerintah Belanda harus mengesampingkan Sultan, karena Sultan hanya sebagai lambang pemersatu, kekuatan terletak justru pada hulubalang dan ulebalang.

Pemerintah Belanda juga harus terus melakukan pengelompokkan dalam masyarakat sehingga kekuatan yang ada dapat dipecah belah. Hal itu disebabkan kekuatan masyarakat Aceh terletak pada kepemimpinan ulama dan kaum bangsawan.

Pada tahun 1899, Belanda mulai menerapkan siasat kekerasan dengan mengadakan serangan besar-besaran ke daerah-daerah pedalaman.

Serang-serangan tersebut dipimpin oleh Kolonel J.B. van Heutz dengan mengerahkan seluruh kekuatan pasukan Belanda yang diberi nama pasukan Marsose (pasukan gerak cepat).

Tanpa mengenal prikemanusiaan, pasukan Belanda membinasakan semua penduduk daerah yang menjadi targetnya. Mereka menyerang dengan membabi-buta. Mereka menyerang suatu perkampungan kemudian menghancurkannya.

Semua tindakan keji ini dimaksudkan untuk melemahkan semangat perjuangan laskar Aceh. Dalam pikiran van Heutz, para pejuang Aceh tidak akan tahan melihat anak-anak, perempuan, dan orang tua menjadi korban peperangan.

Satu per satu para pemimpin perlawanan rakyat Aceh menyerah dan terbunuh. Dalam pertempuran yang terjadi Meulaboh, Teuku Umar gugur. Istrinya Cut Nyak Dien tertangkap dan dibuang ke Sumedang (Jawa Barat).

Sementara Panglima Polim dan Sultan Muhammad Dawud Syah menyerah dan diikuti dengan jatuhnya Benteng Kuto Reh.

Kekalahan telak perlawanan rakyat Aceh ini, memaksa Sultan Muhammad Dawud Syah menandatangani Korte Verklaring (Plakat/Perjanjian Pendek) pada tahun 1904.

Berdasarkan perjanjian tersebut, Aceh mengakui dan tunduk atas kekuasaan pemerintahan Hindia Belanda. Aceh juga bersedia tidak berhubungan dengan negara lain.

Biarpun secara resmi pemerintahan Hindia Belanda menyatakan perang Aceh berakhir pada tahun 1904, dalam kenyataannya tidak.

BACA: Kedatangan Kolonail Jepang di Indonesia.

Perlawanan rakyat Aceh terus berlangsung sampai tahun 1912. Bahkan di beberapa daerah tertentu di Aceh masih muncul perlawanan sampai menjelang Perang Dunia II tahun 1939.

Perlawanan Bangsa Indonesia

Perlawanan Bangsa Indonesia
Sejak bercokolnya kolonialisme dan imperialisme Barat di Indonesia atau Nusantara kala itu telah menyebabkan berbagai reaksi keras dari rakyat Indonesia.

Benturan-benturan yang terjadi antara penjajah dan pribumi sering menyebabkan timbulnya pertentangan-pertentangan yang melebar menjadi peperangan terbuka.

Penyebabnya tiada lain karena berbagai tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh negara-negara penjajah ini terutama pada masa kolonial Portugis di Maluku dan penjajahan Belanda di hampir seluruh nusantara.


BACA JUGA : Reaksi Terhadap Kolonialisme Barat di Indonesia.


Pada kesempatan ini, kita akan membahas perlawanan bangsa Indonesia khusus terhadap penjajah Belanda di berbagai tempat di nusantara kala itu.


1. Perlawanan Rakyat Maluku


Berdasarkan konvensi London pada tahun 1814, kepulauan Maluku termasuk salah satu wilayah kekuasaan Inggris yang harus diserahkan kepada Balanda.

Itulah sebabnya kenapa Belanda kembali berkuasa di Maluku, setelah terusir dari tanah Maluku.

Kembalinya Belanda ke Maluku ini mendatangkan kemarahan rakyat.
Perlawanan Bangsa Indonesia

Rakyat Maluku selanjutnya menyampaikan protes di bawah pimpinan Thomas Matulessy. Mereka menyampaikan daftar keluhan rakyat kepada Belanda yang ditangani oleh 21 penguasa dari daerah Saparua dan Nusa Laut.

Daftar keluhan mengenai tindakan semena-mena pemerintah kolonial yang menyengsarakan rakyat ini di ajukan kepada Residen Van den Bergh.

Belanda ternyata tidak menggubris protes rakyat itu. Oleh sebab itu, rakyat Saparua dan Nusa Laut berniat melakukan gerakan perlawanan terhadap Belanda.

Gerakan rakyat ini kemudian pun mendapat dukungan dari rakyat Honimoa, Haruku, Ambonia, Seram, dan daerah lainnya.

Kemudian, pada tanggal 9 Mei 1817, rakyat Maluku di Saparua mengangkat Thomas Matulessy sebagai pimpinan gerakan perlawanan rakyat dengan gelar Pattimura. Ia dinilai memiliki kecakapan di bidang kepemimpinan dan militer.

Pada tanggal 15 Mei 1817, Pattimura dibantu oleh Anthonie Reebok, Christina Martha Tiahahu, Philip Latumahina, dan Kapitan Said Printah, mulai melakukan aksi perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda.

Mulanya, mereka merampas perahu-perahu pos yang berada di pelabuhan Porto. Setelah itu mereka mulai menyerang Benteng Duurstede di Saparua. Banyak serdadu Belanda yang ditangkap dan dibunuh termasuk Residen Porto yaitu, van Den Berg.

Saat itu juga, Benteng Duurstede jatuh ke tangan rakyat Maluku.

Gubernur van Middelkoop terkejut mendengar kejadian itu. Ia segera mengirim pasukan dari Ambon di bawah pimpinan Mayor Beetjes. Pasukan ini didaratkan di Saparua pada 20 Mei 1817.

Akan tetapi, begitu mendarat, rakyat Saparua menyambutnya dengan serentetan tembakan. Dengan terpaksa pasukan Beetjes memutar haluan dan membelokkannya ke sebuah tikungan teluk di sebelah kiri benteng. Di tempat ini, lagi-lagi pasukan Beetjes kembali disambut serangan gencar.

Pasukan Beetjes menjadi kacau balau, sebaliknya rakyat Maluku semakin bersemangat. Belanda berusah mundur, tetapi pasukan Pattimura terus mengejarnya. Pada pertempuran tersebut, Mayor Beetjes tewas.

Belanda menempatkan kapal-kapal perangnya di perairan Saparua. Serangan segera dilancarkan dengan menembakkan meriam ke arah Benteng Duurstede secara terus menerus.

Pada tanggal 2 Agustus 1817, Belanda berhasil menduduki Benteng Duurstede, tetapi gagal menangkap Pattimura. Oleh sebab itu, Belanda segera melancarkan politik adu domba.

Belanda mengumumkan kepada khalayak bahwa bagi siapa saja yang bisa menginformasikan keberadaan Pattimura akan diberikan hadiah sebesar 1.000 gulden.

Ternyata, jerat Belanda mengenai sasaran, Raja Booi memberi tahu tempat persembunyian Pattimura. Belanda kemudian mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menangkap Pattimura di Bukit Booi.

Akhirnya pada tanggal 11 November 1817, Kapitan Pattimura berhasil ditangkap di perbatasan hutan Booi dan Haria.

:Pada 16 Desember 1817, Pattimura bersama dengan Anthonie Rheebok, Said Printah, dan Philip Latumahina, dijatuhi hukuman gantung di Benteng Nieuw Victoria di Kota Ambon dan disaksikan oleh rakyat.

Pemimpin perlawanan kemudian digantikan oleh Martha Christina Tiahahu, seorang pejuang wanita yang gigih. Namun sayang, dia juga berhasil ditangkap Belanda. Martha, kemudian meninggal dalam perjalanan menuju ke tempat pengasingan di Pulau Jawa.

Setelah kematian para pemimpin ini, maka berakhir juga perlawanan rakyat Maluku terhadap kolonial Belanda.

Kemudian, akibat pemberontakan ini, pemerintah Belanda menerapkan kebijakan ketat. Rakyat Maluku, terutama rakyat Saparua, dihukum berat. Monopoli rempah-rempah pun diberlakukan kembali oleh pemerintah Belanda.

BACA : Kolonialisme Portugis di Maluku.


2. Perlawanan Rakyat Jawa


Perlawanan rakyat Jawa identik dengan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda pada tahun 1825-1830.
Perlawanan Bangsa Indonesia

Siapakah Pangeran Diponegoro?


Pangeran Diponegoro, sewaktu kecil bernama Raden Mas Ontowiryo. Beliau putera tertua dari seorang selir Sultan Hamengkubuwono III.

Ilmu agama Islam begitu mendalam dipelajari oleh Pangeran Diponegoro, sehingga pada dirinya terbentuk karakter yang tegas, keras dan jihad.

Pangeran Diponegoro bergelar Sultan Abdul Hamid Herucakra Amirul Mukminin Sayidin Panatagama Kholifatullah Tanah Jawa (Raja adil pertama dari orang mukmin, pengatur agama, dan Khalifah Allah di Jawa).

Pangeran Diponegoro semenjak kecil diasuh oleh neneknya, Kanjeng Ratu Ageng. Ketika terjadi ketegangan di Istana, Kanjeng Ratu Ageng meninggalkan istana dan diikuti oleh Pangeran Diponegoro ke Desa Tegalrejo, di sebelah barat Yogyakarta.

Namun demikian, Pangeran Diponegoro tetap memiliki peran dalam urusan pemerintahan yaitu bertugas dalam suatu dewan perwalian.

Tugas beliau ini mengakibatkan Belanda sangat tidak menyenangi Pangeran Diponegoro, karena dianggap dapat menghalangi cita-cita menguasai Kesultanan Yogyakarta.

Itu sebabnya, para pembesar Belanda selalu mencurigai dan tetap mengawasi setiap gerak-gerik Pangeran Diponegoro. Inilah kemudian yang menjadi awal dari benih permusuhan antara kesultanan Yogyakarta dan Belanda.

Adapun penyebab timbulnya perang Diponegoro digolongkan menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus.

Sebab umum Perang Diponegoro antara lain:

  • Kekuasaan raja-raja di Yogyakarta dipersempit.
  • Golongan bangsawan dilarang menyewakan tanah kepada golongan swasta, bahkan diambil alih haknya.
  • Belanda ikut campur tangan dalam urusan pemerintahan dan pengangkatan raja pengganti.
  • Berkembangnya kebudayaan Barat yang bertentangan dengan agama Islam.
  • Penderitaan rakyat yang berkepanjangan sebagai akibat dari berbagai macam pajak, sepeti pajak hasil bumi, pajak jembatan, pajak jalan, pajak pasar, pajak ternak, pajak dagangan, pajak kepala, dan pajak tanah.
Sementara, sebab khusus terjadinya perang Diponegoro adalah rencana Belanda membuat jalan yang menerobos tanah Pangeran Diponegoro hingga membongkar makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo.

Kepercayaan Belanda yang menjadi musuh dari Pangeran Diponegoro, Patih Danurejo IV (1813-1847), pada bulan Mei 1825, membuat jalan melalui tanah makam keluarga Diponegoro. Maka tak pelak lagi terjadi bentrokan antara pengikut keduanya.

Pada tanggal 10 Juli 1825 terdengar dentuman meriam Belanda di Tegalrejo. Peristiwa itu mengawali Perang Diponegoro.

Mendengar insiden pertempuran di Tegalrejo itu, pemerintah Belanda di Batavia segera mengirim Letnan Jenderal de Kock ke Surakarta. Di kota ini, de Kock mengumpulkan berbagai informasi dan mengatur strategi.

Dalam perang tersebut, Pangeran Diponegoro, mendapat dukungan dari rakyat Tegalrejo, dan dibantu Kyai Mojo, Pangeran Mangkubumi, Sentot Alibasyah Prawirodirjo, dan Pangeran Dipokusumo.

Pada pertempuran awal, Pangeran Diponegoro memperoleh kemenangan. Hal ini disebabkan sebagian tentara Belanda dikerahkan untuk memadamkan perlawanan di luar Jawa. Selain itu, pasukan Pangeran Diponegoro memiliki semangat yang tinggi untuk mengusir Belanda.

Pangeran Diponegoro selalu menggunakan taktik serangan gerak cepat dan berpindah-pindah markas.

Markas-markas yang pernah ditempati pasukan Pangeran Diponegoro adalah Serang, Plered, Dekso, Pengasih, dan Tegalrejo. Melalui taktik ini, Belanda seringkali menjadi lengah sehingga mendapatkan serangan secara mendadak.

Taktik inilah yang menyebabkan di medan pertempuran, Pangeran Diponegoro memperoleh banyak kemenangan. Beberapa daerah berhasil dikuasainya dan banyak pasukan Belanda menemui ajalnya.

Menghadapi kenyataan ini, de Kock segera mengirim surat kepada Diponegoro untuk berdamai. Dipoenegoro bersedia berunding asalkan de Kock menentukan waktu dan tempatnya. Tidak jelas alasannya, de Kock tidak mengirimkan jawaban. Oleh sebab itu, api perang kembali berkorbar. Tidak kurang dari 2.000 prajurit Belanda tewas di medan laga.

Dalam Perang Diponegoro, Belanda banyak mengalami kesulitan. Bahkan Belanda mengakui Perang Diponegoro adalah perang terberat dan memakan biaya yang besar.

Untuk menghadapi pasukan Diponegoro, Belanda melakukan strategi untuk memperlemah kekuatan musuh. Mereka mengangkat kembali Sultan Sepuh (Hamengkubuwono II). Ini bertujuan agar para bangsawan yang membantu Diponegoro kembali ke istana. Namun siasat ini gagal karena Sultan Sepuh tidak lama kemudian meninggal.

Kemudian, untuk mempersempit ruang gerak dan melumpuhkan perlawanan Pangeran Diponegoro, Jenderal de Kock (pada tahun 1827) menggunakan siasat Benteng Stelsel. Tujuan dari sistem benteng stelsel ini adalah:

  • mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro
  • memecah belah pasukan Diponegoro
  • mencegah masuknya bantuan untuk pasukan Diponegoro
  • bagi Belanda sendiri dapat memperlancar hubungan antara Belanda jika mendapatkan serangan dari pasukan Diponegoro
  • memperlemah pasukan Diponegoro.
Ternyata siasat benteng stelsel ini belum banyak memberikan hasil bagi Belanda meskipun, kedudukan pasukan Pangeran Diponegoro mulai terdesak.

Untuk itu, Belanda mendatangkan pasukan dari daerah lain dan melancarkan siasat mengajak para pembantu Diponegoro untuk berunding. 

Pada tahun 1828, Kiai Mojo pun memenuhi undangan perundingan dengan pihak Belanda. Namun perundingan tersebut tidak menemukan kesepakatan, seusai perundingan Kiai Mojo ditangkap dan diasingkan ke Minahasa (Sulawesi Utara).

Pada tahun 1829, Pangeran Mangkubumi terpaksa tidak melanjutkan perlawanan karena usia lanjut. Demikian pula dengan tokoh muda, Sentot Alibasyah Prawirodirjo yang terbujuk Belanda dan akhirnya berhenti memerangi pasukan Belanda.

Namun semua siasati yang dilancarkan Belanda ini belum juga berhasil menangkap dan mengehentikan perlawanan Pangeran Diponegoro.

Untuk mempercepat berakhirnya perang, de Kock menyebarkan pengumuman yang berisikan pemberian hadiah sebesar 20.000 ringgit kepada siapa saja yang dapat menangkap Pangeran Diponegoro. Usaha ini pun mengalami kegagalan.

Akhirnya pada 28 Maret 1830, Belanda mengadakan tipu muslihat dengan mengajak Pangeran Diponegoro untuk berunding. Pangeran Dipoengoro menyutujuinya. Perundingan kedua pihak berlangsung di rumah Residen Kedu.

Perundingan berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan apa-apa. Akhirnya Pangeran Diponegoro ditangkap dan dibawa ke Semarang, kemudian diasingkan ke Batavia. Padahal sebelumnya, Jenderal de Kock telah berjanji bahwa jika perundingan gagal, Pangeran Diponegoro bebas kembali ke markasnya. Tapi, itulah penghianatan yang dilakukan oleh de Kock.

Pada tanggal 3 Mei 1830 Pangeran Diponogoro dipindahkan ke Manado, dan pada tahun 1834 dipindahkan ke Makasar dan wafat di Makassar pada tanggal 8 Januari 1855.


3. Perlawanan Rakyat Sumatera Barat (Minangkabau)


Perang melawan Belanda yang terjadi di Sumatera Barat ini, dikenal dengan nama Perang Paderi. Perang ini berlangsung pada tahun1821 - 1837, dengan pimpinan pergerakan utama, Tuanku Imam Bonjol.
Perlawanan Bangsa Indonesia

Sebab terjadinya perang berawal dari perang saudara antara kaum Adat dan kaum Paderi yang terjadi pada tahun 1803 - 1821. Perang ini murni perang saudara karena pihak Belanda belum ikut telibat. 

Kaum Paderi adalah golongan pembaharu Islam di Minangkabau yang berusaha menghilangkan kebiasaan buruk yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, seperti berjudi, menyabung ayam, dan meminum minuman keras. Sedangkan, kaum Adat adalah pihak yang menentang upaya kaum paderi ini.

Pertikaian kaum Paderi dan kaum Adat tidak dapat dielakkan. Kekuatan kaum paderi semakin besar setelah mendapatkan bantuan dari Tuanku Imam Bonjol. Pada pertempuiran di Tanah Datar, kaum Adat terdesak. Ini kemudian yang mendorong, kaum adat meminta bantuan kepada Belanda.

Pada tanggal 10 Februari 1821 Residen Belanda, Du Puy mengadakan perjanjian dengan kaum Adat. Mereka bersekutu untuk menghancurkan kaum Paderi.

Untuk memperkuat kedudukan, Belanda mendirikan Benteng Van Der Capellen di Batusangkar dan Benteng De Kock di Bukittinggi.

Dengan berpihaknya Belanda pada kaum adat ini, maka berkobarlah perlawanan kaum Paderi terhadap Belanda.

Pada mulanya, pimpinan Paderi dipegang oleh Tuanku nan Renceh, kemudian oleh Datuk Bendaharo, Tuanku Pasaman, dan Malim Basa. Malim Basa inilah yang dikenal sebagai Tuanku Imam Bonjol. Adapun kaum Adat dipimpin oleh Dato' Sati.

Beberapa kali Belanda dan kaum Adat melancarkan serangan terhadap kaum Paderi, tetapi selalu mengalami kegagalan. Bahkan Belanda sering kali terseret ke dalam jebakan kaum Paderi.

Pada tahun 1825, berhubung dengan adanya perlawanan Pangeran Diponegoro di tanah Jawa, Pemerintah Hindia Belanda dihadapkan pada kesulitan baru. Kekuatan militer Belanda terbatas dan harus menghadapi dua perlawanan besar yaitu perlawanan kaum Paderi dan perlawanan Diponegoro.

Karena itu, Belanda membujuk kaum Paderi untuk mengadakan perjanjian damai.

Perjanjian Masang pun dilakukan antara kaum Paderi dan Belanda, pada tanggal 15 November 1825 di Padang. Kedua belah pihak sepakat melakukan genjatan senjata, tidak saling menyerang dan menghormati batas-batas wilayah masing-masing.

Tentara Belanda kemudian ditarik dari Sumatra dan dipusatkan untuk menumpas perlawanan Diponegoro di Jawa.

Seperti biasa, Belanda menghianati isi perjanjian, tahu 1831 Belanda kembali menggempur kaum Paderi di bawah pimpinan Letnan Kolonel Ellout. Dia ini adalah pimpinan militer tertinggi di Sumatra Barat. Akibat serangan ini, Belanda berhasil merebut markas kaum Paderi di Bonjol.

Namun, serangan Belanda yang membabi buta ini, justru telah menyadarkan kaum Adat bahwa sesungguhnya Belanda ingin menguasai dan menindas rakyat Minangkabau. Setahun setelah itu kaum Adat akhirnya menggabungkan diri dengan kaum Paderi untuk menghadapi Belanda.

Dalam menyikapi perang yang berlarut-larut, Gubernur Jenderal Van den Bosch mengirimkan bala bantuan militer ke Padang pada pertengahan tahun 1832. Pasukan ini terdiri atas 3 kompi dengan perlengkapan beberapa meriam dan mortir.

Dalam pasukan ini, disertakan Sentot Alibasyah Prawirodirjo dan pengikutnya. Namun, ketika pertempuran meletus kembali, Sentot Alibasyah dan pasukannya membelot ke kaum Paderi. Hal ini disebabkan munculnya kesadaran pada dirinya bahwa kaum Paderi sebenarnya merupakan masyarakat pribumi yang berusaha membebaskan diri dari penjajahan Belanda.

Pada tahun 1833, kaum Paderi berhasil merebut kembali kota Bonjol. Kemudian, Belanda pun melakukan politik adu domba. Belanda mengirim Sentot Alibasyah Prawirodirjo dan pasukannya untuk menghadapi kaum Paderi. Ketika inilah, muncul kesadaran dari Sentot Alibasyah Prawirodirjo dan bergabung dengan kaum Paderi, seperti yang telah kita sebut di atas.

Pembelotan Sentot Alibasyah segera diketahui pihak Belanda. Ia kemudian ditangkap dan diasingkan ke Bengkulu, sedangkan pasukannya dibubarkan dan dipulangkan ke daerah asalnya.

Pada tahun 1835, pasukan Belanda dapat mengalahkan pasukan kaum Paderi di Simawang. Beberapa pimpinannya berhasil ditangkap. Pejuang Paderi lainnya kemudian memusatkan pertahanannya di Bonjol. 

Akan tetapi, makin lama kekuatan kaum Paderi makin melemah. Kesulitan utama adalah ditutupnya jalan-jalan penghubung benteng Bonjol dengan daerah-daerah lain.

Sehingga pada waktu perang besar-besaran pada bulan Oktober 1837, pasukan Belanda berhasil menaklukkan benteng kaum Paderi di Bonjol dan berhasil merebut dan menguasai Bonjol secara keseluruhan.

Akhirnya, pada tanggal 25 Oktober 1837 Imam Bonjol menyerah dan ditangkap kemudian diasingkan ke Cianjur, Jawa Barat. Dua tahun kemudian (1839) dipindah ke Ambon. Tahun 1841 kemudian dipindahkan lagi ke Manado dan dipenjara di sana sampai wafatnya pada tanggal 6 November 1864 dalam usia 92 tahun.

Dengan menyerahnya Tuanku Imam Bonjol bukan berarti perang telah usai walaupun tidak sehebat perang sebelumnya. Ini terbukti setelah Imam Bonjol, Tuanku Tambusi melanjutkan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda, walaupun perlawanan ini kemudian juga mengalami kegagalan.


Sekian dulu pembahasan kita tentang Perlawanan Bangsa Indonesia terhadap kolonial Belanda, lain waktu pembahasan ini kita lanjutkan kembali. Terima kasih semoga bermanfaat.


Daftar Pustaka:

1. N. Suparno dan T.D. Haryo Tamtono. IPS untuk SMP/MTs kelas VIII, Kurikulum 2013, esis.
2. Ario Kartono, dkk. IPS untuk SMP/MTs kelas VIII, Teguh Karya, 2006.
3. Anwar Kurnia. IPS Terpadu 2 Kelas VIII SMP sesuai kurikulum 2013, Yudhistira.
4. Buku Panduan Pendidik IPS Terpadu kelas VIII, JP Book.
5. Sanusi Fatah, dkk. Buku bse IPS untuk SMP/MTs kelas VIII, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
6. Sri Sudarmi dan Waluyo. Buku bse Galeri Pengetahuan Sosial Terpadu untuk SMP/MTs kelas VIII, Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Pengaruh Interaksi Antarruang Terhadap Kegiatan Ekonomi, Sosial dan Budaya di Indonesia dan ASEAN

Pengaruh Kerjasama Indonesia dan ASEAN

Pengaruh Interaksi Antarruang Terhadap Kegiatan Ekonomi, sosial dan Budaya di Indonesia dan Asean


A. Pengaruh Interaksi Antarruang terhadap Kegiatan Ekonomi di Indonesia dan ASEAN


Sejak awal pendirian ASEAN kerja sama di bidang ekonomi sudah di gagas dan menjadi agenda utama bagi semua negara anggota.

ASEAN Free Trade Area (AFTA) adalah salah satu dari agenda utama kerjasama ekonomi ini. Semua kepala negara dari negara-negara ASEAN, pada tahun 1992 telah sepakat untuk menjadi kawasan ASEAN sebagai zona bebas untuk perdagangan.

Silahkan lihat : AFTA Manfaat dan Tantangan bagi Indonesia.

Lalu percepatan menuju masyarakat  ekonomi ASEAN pun harus segera perlu dilakukan.

Maka di KTT ke-12 ASEAN pada tahun 2007 disepakati pula percepatan pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini oleh para Menteri Ekonomi ASEAN.

MEA atau pasar tunggal ASEAN diharapkan sudah mulai berjalan paling tidak di akhir tahun 2015. Sebagai salah satu dampak dengan dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN ini yaitu terbukanya peluang bagi satu negara di ASEAN untuk menjual barang dan jasanya ke negara-negara ASEAN yang lain.

Sekarang kita lihat apa sajakah pengaruhnya bagi masyarakat ASEAN dengan terjalinnya semua kerjasama di bidang ekonomi tersebut. Khususnya bagi masyarakat Indonesia.

Dalam segala hal semua kerjasama terutama kerjasama di bidang ekonomi selalu memiliki dua sisi, sisi positif dan sisi negatif.

Pengaruh positif

Apa sajakah pengaruh positif dari terjalinnya interaksi antarruang terhadap kegiatan ekonomi antarnegara ASEAN tersebut?

Berikut beberapa pengaruh positifnya:

1. Tenaga kerja profesional akan mudah bergerak antarnegara ASEAN. Ini artinya bagi masyarakat Indonesia yang mempunyai pengetahuan dan skill khusus akan mendapat peluang yang besar untuk bekerja pada setiap negara-negara anggota ASEAN.

2. Investasi dari negara-negara anggota ASEAN dapat masuk dan diterima Indonesia untuk mengembangkan berbagai industri maupun jasa di Indonesia.

3. Pangsa pasar bagi produk-produk Indonesia terbuka lebar di negara-negara ASEAN. Kebijakan impor barang tanpa pajak antarnegara ASEAN dapat menguntungkan Indonesia. Berbagai produk Indonesia dapat dijual di negara-negara ASEAN dengan harga yang tidak terlalu jauh dengan harga jual di Indonesia.

Pengaruh Negatif

Ada pun pengaruh negatifnya bagi Indonesia dapat seperti berikut ini.

1. Semakin banyaknya tenaga kerja asing yang berasal dari ASEAN masuk di bursa tenaga kerja di Indonesia.

Hal ini akan berdampak cukup serius bagi tenaga kerja Indonesia sendiri dalam kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan di negara sendiri, terutama yang skillnya di bawah skill tenaga kerja asing itu.

Alih-alih akan meningkatkan kesejahteraan justeru yang akan terjadi adalah semakin meningkatnya angka pengangguran.

Untuk menghadapi MEA ini banyak hal yang harus dibenahi oleh Indonesia terutama pembenahan dalam permasalahan ketenagakerjaan.

Harus ada upaya-upaya yang sangat jitu dalam mengatasi permasalahan tenaga kerja di Indonesia.

Peningkatan ilmu pengetahuan dan keterampilan terhadap jenis pekerjaan yang dilakukan dapat dilakukan dengan meningkatkan mutu pendidikan dan pengadaan pelatihan-pelatihan secara teratur dan berkesinambungan.

Dari segi pengetahuan bahasa juga harus mendapatkan perhatian lebihdengan mengasah kemampuan bahasa asing. Perusahaan nasional dan perusahaan asing  yang ada di Indonesia tentu lebih membutuhkan tenaga-tenaga kerja yang mempunyai kemampuan berbahasa asing ini. 

Kalau semua masalah tersebut sudah dapat dibenahi dengan baik, maka kita tidak perlu khawatir tenaga kerja Indonesia kalah bersaing dengan para pekerja negara-negara ASEAN lain seperti Singapura, Filipina, dan Malaysia.

Masalahnya apakah kita siap untuk mengalami perubahan?

Baca : Masalah Ketenagakerjaan di Indonesia



2. Kemungkinan akan terbukanya ekploitasi sumber daya alam Indonesia.

Terbentuknya MEA menyebabkan terbukanya pintu yang lebar bagi perusahaan-perusahaan besar dari negara-negara ASEAN untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Kita tahu dan menyadari, Indonesia adalah negara di ASEAN yang paling besar sumber daya alamnya.

Kekayaan alam ini akan menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi asing untuk menanam modal mereka dan mengolah sumber daya alam Indonesia.

Ini harus dijaga dengan baik, kalau tidak dikhawatirkan sumber daya alam Indonesia akan cepat berkurang.

Baca juga : Prinsip-prinsip Pengelolaan Sumber Daya Alam.

3. Serbuan barang-barang yang berasal dari negara-negara anggota ASEAN.

Perdagangan bebas (free trade) di regional Asia Tenggara ini menyebabkan barang-barang yang diperdagangkan bebas keluar masuk dari negara satu ke negara lainnya.

Indonesia dengan penduduk yang paling besar dan daya beli yang cukup bagus merupakan pangsa pasar yang sangat menguntungkan bagi negara-negara lain di ASEAN.

Serbuan barang dari negara lain ini akan menyebabkan terjadinya persaingan dengan produk dalam negeri.

Harga yang lebih murah dan tampilan yang lebih baik dapat mematikan produk Indonesia yang sejenis apabila tidak mampu bersaing.

B. Pengaruh Interaksi Antarruang terhadap Kegiatan Sosial di Indonesia dan ASEAN


Para anggota ASEAN adalah negara-negara yang letaknya saling berdekatan di kawasan Asia Tenggara dengan total jumlah penduduk keseluruhan sebanyak 650 juta jiwa berdasarkan statistik tahun 2012 dan akan menjadi 720 juta jiwa pada tahun 2030 nanti.

Di kawasan ini mobilitas penduduk sangat aktif dan mengarah pada tren urbanisasi, sehingga di perkirakan pada tahun 2025, hampir 50% dari penduduknya akan tinggal di perkotaan.

Permasalahan penduduk yang besar dan urbanisasi yang ada di negara-negara ASEAN mendorong terbentuknya suata kerjasama antar negara-negara anggota ASEAN sejak 2009 lalu untuk membentuk Kota Berwawasan Lingkungan di masing-masing negara.

Supaya maksud ini dapat berjalan dengan baik, maka ASEAN Working Group on Environmentally Sustainable Cities atau yang disingkat dengan AWGESC berperan dalam mempromosikan pembentukan kota-kota berwawasan lingkungan di ASEAN.

AWGESC selaku pelaksana program ASEAN ESC atau Model Kota-kota ASEAN Berwawasan Lingkungan memberikan pendanaan awal, bantuan teknis dan berbagai bantuan lain untuk meningkatkan kemampuan masyarakat terkait dalam menjadikan kotanya berwawasan lingkungan.

Di samping itu AWGESC juga berperan mempromosikan kerja sama antarkota di ASEAN serta kerja sama dengan negara-negara lain, seperti dengan Jepang.

Sekarang mari kita lihat apa saja pengaruhnya dari sisi sosialnya. Sama dengan di atas tadi kita akan lihat pengaruh positifnya apa dan pengaruh negatifnya apa.

Pengaruh positif

1. Terciptanya solidaritas antarnegara ASEAN.


Interaksi yang sering terjadi pada masyarakat ASEAN akan membangun rasa kebersamaan dan kerukunan antar masyarakat sesama ASEAN.

Jika rasa solidaritas ini tumbuh dengan baik maka hal-hal lainnya akan cukup mudah untuk dilakukan. kerjasama-kerjasama antar masyarakat ASEAN pun akan mudah tercipta.

2. Terdapat upaya mendorong isu-isu kebijakan yang terkait dengan upaya pencapaian kesejahteraan sosial dan pembangunan antarnegara anggota ASEAN.

Untuk mencapai maksud ini maka dibentuklah suatu wadah yang disebut dengan ASEAN Ministerial Meeting on Social Welfare and Development (AMMSWD).

AMMSWD ini adalah pertemuan seluruh Menteri Sosial/Kesejahteraan Sosial negara-negara ASEAN. Di mana pada pertemuan ini, para menteri tersebut melaporkan upaya-upaya pencapaian kesejahteraan sosial dan pembangunan di masing-masing negaranya.

Pertemuan para menteri sosial/kesejahteraan sosial ini juga bermaksud mendorong kebijakan yang terkait dengan upaya pencapaian kesejahteraan sosial dan pembangunan.

Pengaruh Negatif

Apa saja pengaruh negatif yang akan timbul dari interaksi antarruang ASEAN di bidang hubungan sosial ini?

Berikut ini adalah beberapa pengaruh negatif yang ditimbulkannya:

1. Kemungkinan akan timbulnya gesekan-gesekan atau pertentangan-pertentangan antara penanaman modal dari negara-negara ASEAN dengan tatanan hidup sosial yang sudah menjadi pegangan masyarakat.

Hal ini jangan sampai terjadi karena justeru hal ini akan menjadi penghambat perkembangan ekonomi di daerah tersebut.

Sebaiknya para penanam modal dari ASEAN terlebih dulu meolakukan suatu riset terhadap apa saja dampak sosial yang mungkin timbul dari usaha yang ingin mereka garap di daerah yang bersangkutan  dan kemudian bila perlu berusaha memperbaiki dan meningkatkan kehidupan sosial dan ekonomi daerah yang bersangkutan.

2. Dikhawatirkan akan muncul sikap konsumerisme dan hedonisme karena banyak dan beragamnya barang  yang masuk dari negara-negara ASEAN.

Sikap-sikap negatif ini akan berdampak secara sosial karena bisa jadi barang-barang yang dibeli bukan karena berdasarkan kebutuhan tetapi dengan maksud lain, misalnya supaya dipandang orang lain atau karena status sosial yang ingin ditingkatkan ditengah masyarakat.

C. Pengaruh Interaksi Antarruang terhadap Kegiatan Budaya di Indonesia dan ASEAN


Interaksi dalam bidang budaya di antara negara-negara ASEAN atau Asia Tenggara dimaksudkan agar masing-masing saling mengenal budaya sehingga tercipta rasa saling menghargai dan mencintai sesama negara ASEAN.

Program kerja sama kebudayaan dan informasi ASEAN diarahkan pada "promoting an ASEAN identity" yang meliputi:

  1. Promosi kesadaran ASEAN dan identitas regional ASEAN.
  2. Pelestarian dan promosi warisan budaya ASEAN.
  3. Dialog bagi terciptanya suatu pengertian yang lebih mendalam akan peradaban, kebudayaan, dan agama-agama di ASEAN, dan
  4. Promosi peran ASEAN dalam komunitas internasional.
Adapun ajang kegiatan yang pernah diselenggarakan untuk pengenalan budaya antarnegara ASEAN ini adalah ASEAN New Media Art Competition and Exhibition yang diadakan di Galeri Nasional Indonesia pada tahun 2007.

Kegiatan tersebut menyasar generasi muda ASEAN dengan maksud memperkuat kepedulian mereka terhadap berbagai budaya yang ada di negara-negara ASEAN.

Selain itu, pada tahun 2008 diselenggarakan pula di Jakarta, kegiatan yang diberi nama Best of ASEAN Performing Art yang menampilkan penampilan-penampilan seni-seni terbaik ASEAN.

Kegiatan ini diadakan setiap tahun di tempat-tempat yang berbeda di ASEAN dengan mengusung tema yang berhubungan dengan kota dan negara yang menyelenggarakannya.

Sekarang mari kita lihat apa saja pengaruh positif dan pengaruh negatif dari kerja sama antarruang di bidang budaya ini.


Pengaruh Positif

1.  Melalu berbagai ajang dan pestival budaya yang diselenggarakan bersama-sama secara rutin, seperti kegiatan-kegiatan yang kita sebutkan di atas tadi akan berdampak positf pada meningkatnya ketertarikan dan kepedulian warga negara anggota ASEAN terhadap budaya negara-negara ASEAN.

2.  Kerja sama di bidang budaya yang menampilkan berbagai kekayaan dan corak budaya negara-negara ASEAN ini tidak hanya diketahui oleh masyarakat ASEAN tetapi akhirnya juga dikenal secara luas dan mendunia.

Dengan demikian jumlah kunjungan turis semakin meningkat tidak hanya turis lokal ASEAN tetapi juga turis yang berdatangan dari negara-negara luar ASEAN.

Pengaruh Negatif

1. Persaingan antar budaya tidak terelakkan lagi Ini akan berdampak buruk bagi budaya yang kurang promosi dan bersifat kaku karena dipastikan akan kalah bersaing dengan budaya yang gencar melakukan promosi budaya.melalui atraksi dan pestival budaya.

2. Masing-masing budaya akan saling pengaruh mempengaruhi. Nilai-nilai budaya suatu negara bisa saja masuk dan mengubah nilai budaya negara lain.

Misalnya budaya yang datangnya dari Thailand bisa memasuki budaya yang ada di Indonesia dengan cara akulturasi padahal nilai dan karekter budaya Thailand banyak berbeda dengan Indonesia. Karena itu harus ada filter atau penyaring budaya asing yang bersifat negatif itu.

3. Terkadang untuk menarik minat turis asing (ASEAN) untuk datang berkunjung, maka pada ajang promosi budaya acara dikemas dengan maksud untuk mengikuti dan memuaskan selera turis asing,

ini menyebabkan terjadi pergeseran dan perubahan budaya dari aslinya sehingga sulit untuk dikenali lagi. Agar hal ini tidak terjadi, kebudayaan daerah harus terus kita rawat dan jaga dengan baik.

Lihat :

Buku Paket IPS K-13 untuk SMP/MTS Kelas VIII
Penulis: N. Suparno dan T.D. Haryo Tamtomo
Penerbit: Erlangga, 2016.

Peran Masyarakat Luar Negeri Sebagai Pelaku Ekonomi

Peran Masyarakat Luar Negeri Sebagai Pelaku Ekonomi
Peti kemas ekspor-impor

Masyarakat Luar Negeri Sebagai Pelaku Ekonomi


Masyarakat luar negeri adalah orang atau badan usaha yang berada di luar negeri. Masyarakat luar negeri merupakan salah satu pelaku ekonomi yang ikut terlibat langsung dalam suatu sistem perekonomian suatu negara melalui perdagangan internasional.

Baca: Penjelasan Pengertian Sistem Ekonomi.

Perdagangan internasional dilakukan melalui kegiatan ekspor dan impor barang.


Barang-barang ekspor adalah barang-barang yang diperdagangkan dan dibutuhkan pada pasar-pasar negara tujuan. Begitu pula sebaliknya barang yang masuk ke pasaran Indonesia melalui impor juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat dalam negeri.

Baca juga: Kerja sama Ekonomi Internasional

Dengan demikian masyarakat luar negeri juga terlibat sebagai pelaku ekonomi yakni dalam perannya sebagai konsumen dan produsen.

Sebagai konsumen, masyarakat luar negeri membutuhkan dan membeli produk-produk yang dihasilkan dan diimpor dari rumah tangga-rumah tangga produsen di Indonesia. Seperti tekstil, garmen, minyak bumi, hasil hutan, pesawat penumpang, persenjataan dan lain sebagainya.

Sebalikinya bagai RTP yang ada di Indonesia melakukan ekspor produknya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luar negeri tadi.

Sebagai produsen, masyarakat luar negeri juga menjual hasil produknya ke pasaran Indonesia melalui ekspor. Ekspor dari RTP asing ini terjadi karena adanya permintaan dari orang atau badan usaha yang ada di Indonesia. Orang atau badan usaha baik RTK, RTP, atau pun Pemerintah yang ada di Indonesia kemudian membeli atau mengimpor barang-barang tersebut.

Uraian di atas adalah ilustrasi terjadinya interaksi antarnegara melalui perdagangan internasional yang terdiri dari kegiatan ekspor-impor.

Contoh lain dari kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat luar negeri dalam hal ini peran mereka sebagai konsumen adalah sebagai berikut:

Di samping kegiatan impor barang tadi, termasuk juga dalam kegiatan ekonomi (konsumsi) yang dilakukan oleh mereka ini adalah mendatangkan para tenaga kerja dari Indonesia ke negara mereka dan menjadi wisatawan (turis) untuk menikmati keindahan panorama alam di Indonesia.

Ketika mereka datang ke Indonesia secara tidak langsung orang-orang asing ini akan menggunakan fasilitas-fasilitas di dalam negeri seperti bandara, perbankan, perhotelan dan sebagainya.

Sedangkan contoh masyarakat luar negeri sebagai produsen, antara lain:

Memproduksi barang dan mengekspornya, termasuk juga kegiatan produksi tenaga-tenaga ahli asing yang bekerja di Indonesia untuk mengolah sumber daya alam dan perusahaan-perusahaan asing yang beroperasi di dalam negeri.

Peran penting lain dari masyarakat luar negeri adalah sebagai berikut:



  1. Melakukan kegiatan penanaman modal (investasi) di Indonesia. Banyaknya investor yang menanam modal ke dalam negeri berarti akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
  2. Memberikan bantuan dana berupa hibah ketika Indonesia tertimpa bencana alam
  3. Menampung tenaga kerja. Ini artinya lini usaha yang dibangun dan dioperasikan di Indonesia akan menyerap banyak tenaga kerja Indonesia sehingga bisa mengurangi masalah ketenagakerjaan.
Jangan lewatkan juga Peran Rumah Tangga Produsen.


Itulah penjelasan global dan beberapa contoh dari peran masyarakat luar negeri sebagai pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian suatu negara seperti di Indonesia. Terima kasih.

Peran Rumah Tangga Produsen (RTP)

Peran Rumah Tangga Produsen (RTP)


Rumah tangga produsen (RTP) atau yang biasa kita kenal dengan sebutan perusahaan  menjalankan usahanya dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.

Merekalah yang berperan penting dalam menyediakan dan mengadakan segala kebutuhan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Peran Rumah Tangga Produsen (RTP)

Karena sebagai produsen, RTP berfungsi membuat dan menghasilkan berbagai produk dan jasa, baik itu barang setengah jadi yang membutuhkan pengolahan kembali maupun barang jadi yang siap untuk dipakai oleh penggunanya.

Bahkan rumah tangga produsen atau perusahaan ini juga melakukan kegiatan usahanya dalam rangka menambah nilai guna suatu barang sehingga dapat lebih bermanfaat.

Contoh dalam menambah nilai guna yang dilakukan produsen ini adalah produksi kain dibentuk menjadi pakaian jadi,  batu di kali digunakan sebagai pondasi sebuah bangunan.

Jadi produsen adalah setiap kegiatan atau usaha yang dilakukan dalam rangka menciptakan, membuat dan menambah nilai guna suatu barang dan jasa yang dapat dimanfaatkan oleh penggunanya atau konsumen.

Siapa saja yang disebut produsen?


Setiap orang atau badan, baik perorangan maupun kelompok (perkongsian) yang menitikberatkan kegiatannya dalam bidang pembuatan, penciptaan dan menambah nilai guna barang dan jasa. Seperti :

Perusahaan perorangan

Persekutuan

Firma

CV

Perseroan Terbatas

BUMN-BUMN yang dikelola oleh pemerintah pusat, serta

BUMD yang pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah daerah/provinsi.

Baca: Pelaku Utama dalam Sistem Perekonomian Indonesia.

Di samping peran utamanya sebagai produsen, RTP ini juga sebagaimana halnya dengan RTK dapat pula berperan sebagai konsumen dan distributor.

Apakah yang dikonsumsi rumah tangga produsen atau perusahaan sebagai konsumen?

Konsumsi yang dilakukan oleh RTP berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan produksi, seperti pengadaan bahan baku, pembelian alat-alat ataupun mesin-mesin produksi, pengeluaran untuk membayar upah dan gaji para pegawai, dan lain sebagainya.

Dan bagaimana RTP ini berperan sebagai distributor?

Setelah proses kegiatan produksi selesai dilakukan artinya barang yang sudah jadi siap untuk dijual dipasaran. Disinilah kemudian RTP berperan sebagai distributor.

Sebagai distributor, rumah tangga produsen (RTP) menyalurkan produk mereka agar sampai ke konsumen dalam kondisi yang baik dan tepat waktu.

Kelancaran pasokan barang kepada konsumen memiliki dua keuntungan, yaitu dapat melancarkan kebutuhan konsumen tepat waktu, dan juga mempercepat barang dan jasa menjadi uang.

Saluran distribusi yang biasanya digunakan oleh RTP ini adalah pedagang-pedagang besar atau agen-agen yang mereka bangun dan dealer-dealer baru kemudian turun ke pedagang-pedagang menengah dan kecil atau retail-retail.

Perusahaan juga tidak jarang melakukan penjualan langsung kepada konsumen mereka melalui promo-promo dari produk unggulan mereka. Ini dimaksudkan agar barang mereka lebih dikenal oleh masyarakat.

Di samping itu RTP ini juga dapat berperan dalam:

1. Meningkatkan produk domestik bruto (PDB)


Apa pengertian PDB?

PDB atau Gross Domestic Product (GDP) adalah penjumlahan dari semua barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara suatu negara dalam jangka waktu tertentu.

Dalam PDB termasuk yang dihitung adalah pendapatan orang-orang dan perusahaan-perusahaan asing yang ada dalam suatu negara.

Contoh dalam wilayah Indonesia, maka PDB dihitung juga berdasarkan pendapatan-pendapatan orang-orang asing dan perusahaan-perusahaan asing yang ada di Indonesia.

Kemakmuran suatu negara berhubungan dengan kemampuan negara tersebut untuk menghasilkan barang dan jasa.

Semakin besar kemampuan negara memproduksi barang dan jasa maka produk domesti bruto akan besar pula  dan berdampak positif pada tingginya kemakmuran penduduknya.

PDB merupakan salah satu metode yang dipakai dalam menghitung pendapatan nasional.

2. Memengaruhi kebijakan pemerintah dalam rangka menghasilkan produksi


Perusahaan-perusahaan berskala besar memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menentukan arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Peraturan-peraturan yang dibuat oleh pemerintah banyak mempertimbangkan kepentingan para produsen besar ini untuk menjaga mereka agar tetap berinvestasi di dalam negeri.

Bahkan di beberapa negara luar, pembuatan peraturan merupakan usulan dari para produsen ini yang jika tidak dipertimbangkan oleh pemerintah mereka akan hengkang dari negara tersebut dan memilih pindah untuk menanamkan modalnya ke negara lain yang lebih menguntungkan bagi perusahaan mereka.

3. Membayar harga barang faktor-faktor produksi


Dalam proses produksi yang dilakukan oleh RTP, mereka memerlukan berbagai barang kebutuhan produksi berupa tenaga manusia dan bahan baku. Tenaga manusia (pekerja) dan bahan baku ini bisa mereka dapatkan dari RTK.

Pembayaran harga barang-barang faktor produksi kepada RTK atau konsumen ini menambah pendapatan masyarakat dan menambah pendapatan nasional.

Pendapatan nasional adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh seluruh rumah tangga keluarga (RTK) di suatu negara dari penyerahan faktor-faktor produksi dalam satu periode, biasanya selama satu tahun.

4. Melakukan kegiatan inovasi pada produksi barang


Inovasi dalam produksi memiliki pengertian sebagai suatu kegiatan untuk melakukan perubahan dalam produksi supaya dapat menekan biaya produksi dan operasional, memperbanyak jumlah produksi dan meningkatkan kualitas produk.

Biaya-biaya produksi dan operasional adalah biaya-biaya yang dikeluarkan ketika produksi berlangsung seperti upah/gaji karyawan, bahan-bahan yang digunakan, peralatan produksi, biaya transportasi dan biaya pengerjaan ulang.

Intinya produsen sebagai wirausahawan berusaha mencari atau menemukan cara-cara kerja baru agar harga pokok barang menjadi murah dan waktu melakukan produksi menjadi cepat.

Baca artikel sebelumnya: Peran Rumah Tangga Keluarga (RTK)

Peran Rumah Tangga Keluarga (RTK)

Peran Rumah Tangga Keluarga atau Konsumen


Salah satu pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian adalah rumah tangga keluarga atau konsumen (RTK).

Secara umum rumah tangga keluarga ini memiliki peran utama sebagai konsumen, yaitu pengguna barang akhir. RTK ini pula yang menjadi target pasar utama dari para produsen dalam memasarkan berbagai produk mereka.

Rumah tangga keluarga atau konsumen adalah pelaku ekonomi yang paling banyak mengonsumsi produk barang dan jasa. Mereka ini adalah pangsa pasar yang sangat besar.

Pada kegiatan ekonomi, peran konsumen atau keluarga ini sangat menentukan bagi produsen sebelum mereka membuat atau menghasilkan barang dan jasa.

Karena konsumen pengguna barang jadi atau barang akhir, maka pihak perusahaan mau tidak mau harus melakukan riset pasar terlebih dahulu sehingga barang yang diproduksi sesuai dengan kebutuhan dan selera konsumen atau pemakainya.

Tidak cukup dengan riset pasar ini, pihak produsen juga melakukan berbagai kegiatan promosi untuk memperkenalkan produk mereka kepada para konsumen yang menjadi pasar potensial bagi mereka.

Dalam kondisi yang memungkinkan RTK juga mengambil peran sebagai produsen dan distributor. Jadi peran rumah tangga keluarga atau konsumen adalah sebagai konsumen, produsen, dan bisa juga berperan sebagai distributor.

Sebagai konsumen, RTK membeli berbagai barang kebutuhan, seperti beras, sabun, baju, motor, dan rumah. Kegiatan konsumsi mereka ini berasal dari penghasilan yang mereka dapatkan dari berbagai pekerjaan yang mereka lakukan.

Pendapatan mereka ini berhubungan dengan faktor-faktor produksi yang mereka sediakan seperti tenaga kerja, sumber daya alam, modal, dan kewirausahaan.

Faktor-faktor produksi ini adalah sangat penting bagi rumah tangga produsen dan perusahaan dalam melaksanakan kegiatan produksi mereka.

Baca: Sumber Daya Ekonomi

Sebagai produsen, rumah tangga keluarga memperoleh pendapatan dengan membuat barang dan jasa kemudian menjualnya langsung kepada konsumen.

Banyak contoh dari rumah tangga yang berperan sebagai produsen ini di sekitar kita. Misalnya ada rumah tangga yang membuat atau memproduksi tempe, tahu, aneka makanan ringan, kerajinan dan lain sebagainya. Semua ini adalah kegiatan produksi yang dilakukan oleh rumah tangga-rumah tangga keluarga.

Rumah tangga keluarga juga membantu produsen di dalam memasarkan barang mereka kepada para konsumen dengan mengambil peran sebagai distributor. Bahkan kegiatan ini sangat banyak dilakukan oleh para rumah tangga keluarga ini sebagai sumber penghasilan mereka.

Sebagai distributor, RTK ini membeli berbagai barang untuk dijual kembali (reseller). Untuk memasarkan barang, mereka membuka toko, warung, bahkan tidak sedikit yang menjual melalui media sosial.

Kegiatan distribusi yang dilakukan oleh Rumah tangga keluarga ini, secara langsung membantu kelancaran peredaran barang dan jasa, sehingga barang yang telah diproduksi tidak mengendap di gudang karena belum terjual.

Di samping peran-peran yang telah kita sebutkan tadi, RTK juga memiliki peran-peran penting lainnya. Misalnya, memengaruhi kebijakan pemerintah dalam rangka perlindungan konsumen dan berperan untuk menaikkan dan menurunkan harga faktor-faktor produksi.

Rumah tangga konsumen sebagai pemilik faktor-faktor produksi, baik itu tenaga kerja maupun modal, dapat menaikkan dan menurunkan sewa, upah, dan bunga.

Kebijakan pemerintah dalam perlindungan konsumen misalnya dapat dilakukan pemerintah dengan menetapkan peraturan-peraturan yang berpihak kepada konsumen.

Produk pemerintah dalam perlindungan konsumen seperti penetapan peraturan harga eceran tertinggi (HET) pada produk obat-obatan dan pembentukan YLKI atau yayasan lembaga konsumen Indonesia.

Sekarang mari kita lihat hubungan antara RTK dan RTP


Hubungan antara keduanya dapat dilihat pada gambar-gambar peraga di bawah.

Model 2 Sektor


Peran Rumah Tangga Keluarga (RTK)
Faktor-faktor produksi seperti sumber daya alam, tenaga kerja, dan modal bersumber dari rumah tangga keluarga (RTK).

Faktor-faktor produksi itu kemudian diserap dan digunakan oleh rumah tangga produsen (RTP) untuk menjalankan roda perusahaan dan proses produksi barang dan jasa.

Dari faktor-faktor produksi yang ditawarkan oleh RTK kepada RTP ini, RTK akan mendapatkan penghasilan berupa sewa, gaji, upah, uang pembelian bahan baku, laba, dan bunga dari RTP.

Kemudian selanjutnya RTK akan membelanjakan penghasilannya tersebut dengan membeli produk-produk barang dan jasa yang dihasilkan oleh RTP.

Model 3 sektor

Peran Rumah Tangga Keluarga (RTK)

Pada model 3 sektor ini melibatkan RTK, RTP, dan pemerintah.

Di sini peran pemerintah tidak hanya sebagai konsumen saja, akan tetapi juga berperan sebagai produsen.

Sebagai konsumen, pemerintah menggunakan tenaga kerja, seperti pegawai negeri dan akan memberikan upah atau gaji.

Sebagai produsen, pemerintah menghasilkan barang dan jasa untuk kebutuhan masyarakat seperti BBM, gas, dan listrik.

Rumah tangga produsen membayar pajak dari kegiatan usaha kepada pemerintah dan pajak ini pun dibayar oleh rumah tangga konsumen atas kegiatan konsumsi yang dilakukan, seperti PPn, PBB dan juga pajak penghasilan dari gaji atau upah yang diperoleh.

Pemerintah kemudian menggunakan pajak-pajak tersebut untuk membiayai belanja rutin negara, menyediakan fasilitas publik, serta memberikan subsidi dan bantuan kepada RTK dan RTP.

Lihat juga: Kegiatan Pokok Ekonomi

Penawaran Individu, Penawaran Pasar, Beserta Kurvanya

Penawaran Individu, Penawaran pasar, dan Kurva Penawaran


Kembali pada kesempatan kali ini kita bertemu kembali dan kita masih akan melanjutkan materi sebelumnya yaitu penawaran dengan sub materi Penawaran Individu, penawaran pasar beserta kurvanya, semoga  bermanfaat.

Apa penawaran individu itu?

Ingat orang yang melakukan penawaran adalah orang atau lembaga yang menawarkan barang dan jasanya kepada konsumen bisa berupa individu-individu, lembaga, badan usaha, pemerintah dan lain-lain.
Dengan kata lain mereka yang melakukan penawaran adalah para penjual.

Kalau dikatakan penawaran individu maka itu maknanya yang melakukan penawaran atau menjual adalah satu orang saja.

Jadi penawaran individu adalah jumlah barang yang ditawarkan oleh seorang penjual.

Contoh Aisya membuka toko busana muslim dan menawarkan busananya kepada orang-orang di sekitarnya.

Baca juga: Keunggulan dan Keterbatasan Antarruang dalam Penawaran

Dan apa itu penawaran pasar?

Nah sekarang, jika yang menawarkan busana itu banyak penjual, bukan hanya Aisya dengan toko busananya, maka itulah yang disebut dengan penawaran pasar atau boleh disebut juga penawaran kolektif.

Jadi ada banyak orang, lembaga dan badan yang menawarkan barang yang sama kepada konsumen.

Dengan demikian penawaran pasar adalah keseluruhan jumlah suatu barang yang ditawarkan oleh penjual di pasar. Penawaran pasar ini merupakan penjumlahan dari keseluruhan penawaran perseorangan.

Misalnya penawaran seluruh pedagang busana di pasar atau total keseluruhan penawaran pedagang jeruk di pasar buah.

Pengertian kurva penawaran dan modelnya.

Kurva penawaran adalah suatu kurva yang menunjukkan hubungan antara harga barang dengan jumlah barang yang ditawarkan.

Kita telah mengetahui selain harga, ada juga beberapa faktor lain yang memengaruhi jumlah penawaran.

Ini artinya, harga dan faktor-faktor lain itu bisa menyebabkan kurva penawaran berubah dan mengalami pergeseran.

Pergeseran ini, bisa ke kanan jika penawaran mengalami peningkatan dan bisa juga ke kiri apabila jumlah barang yang dijual mengalami penurunan.

Dalam kurva penawaran ada dua hal yang perlu diketahui yakni yang pertama penawaran (berarti keseluruhan dari kurva penawaran) dan yang kedua jumlah barang yang ditawarkan (berarti banyaknya jumlah barang yang ditawarkan pada suatu tingkat harga tertentu).

Penawaran Individu, Penawaran Pasar, Beserta Kurvanya

Ciri umum dari sebuah kurva penawaran adalah selalu mengalami pergerakan ke atas (bergerak naik) dari kiri bawah ke kanan atas atau berslope positif. Ini menandakan adanya hubungan positif antara harga dan jumlah barang yang ditawarkan.

Maksud di atas, makin tinggi harga maka makin banyak jumlah barang yang ditawarkan (ceteris paribus). Ini dapat kita simpulkan bahwa hubungan antara harga dengan jumlah barang yang ditawarkan berbanding lurus.
Sesuai dengan bunyi hukum penawaran berikut.

Semakin tinggi harga suatu barang, maka semakin banyak jumlah barang yang ditawarkan. Sebaliknya, semakin rendah harga suatu barang, maka semakin sedikit jumlah barang yang ditawarkan.

Lihat model dari kurva-kurva penawaran di bawah.

Untuk contoh model-model kurva di bawah akan kita ilustrasikan dengan penawaran buku dari seorang atau beberapa pedagang buku yang ada di pasar.

1.Model kurva penawaran individu

Daftar penawaran buku Bu Erma mula-mula, saat ini, dan saat tahun ajaran baru.
Harga
Jumlah Buku yang ditawarkan Bu Erma
Mula-mula
Saat Ini
Saat Tahun Ajaran Baru
5.000
125
100
150
4.000
100
75
125
3.000
75
50
100
2.000
50
30
75
1.000
20
10
40

Penawaran Individu, Penawaran Pasar, Beserta Kurvanya

Perhatikan kurva di atas!

Kurva di atas menunjukkan kurva pergeseran ke kiri, ini menandakan penawaran buku oleh Bu Erma mengalami penurunan. Namun ketika tahun ajaran baru tiba, penawaran akan mengalami peningkatan dan menyebabkan kurva bergeser ke kanan.

2.Model kurva penawaran pasar

Daftar penawaran pasar
Harga
Jumlah Buku yang Ditawarkan
Penawaran
Pasar
Bu Erma
Penjual X
Penjual Y
dst
5.000
125
300
250
...
900
4.000
100
200
150
...
800
3.000
75
100
125
...
600
2.000
50
75
100
...
400
1.000
25
25
50
...
200

Lihat pada kolom penawaran pasar. Angka-angka yang terdapat pada kolom itu adalah penjumlahan dari seluruh penawaran buku yang dilakukan oleh para pedagang. Sehingga bentuk kurvanya akan seperti di bawah ini.

Penawaran Individu, Penawaran Pasar, Beserta Kurvanya

3.Penawaran buku pada berbagai tingkatan

Harga
Jumlah yang Ditawarkan
Titik Koresponden
Rp. 3.000,00
Rp. 4.000,00
Rp. 5.000,00
Rp. 6.000,00
Rp. 7.000,00
300
450
600
750
900
a
b
c
d
e

Dari daftar di atas maka model kurvanya akan berbentuk seperti ini.
Penawaran Individu, Penawaran Pasar, Beserta Kurvanya
Dan lihat ilustrasi pergeseran kurva tersebut.
Penawaran Individu, Penawaran Pasar, Beserta Kurvanya

Pada kurva tersebut, garis Supply (S) terdapat lima titik, yaitu a, b, c, d, dan e. Masing-masing titik menggambarkan keadaan tabel penawaran. Misalnya, titik a menggambarkan tingkat harga Rp. 3.000,00 dan jumlah buku yang ditawarkan 300 unit. Titik b menggambarkan tingkat harga Rp. 4.000,00 dan jumlah buku yang ditawarkan berjumlah 450 unit. Begitu seterusnya.

Artikel sebelumnya: Faktor-faktor yang Memengaruhi Penawaran

Kurva penawaran menunjukkan kemampuan produsen dalam menyediakan suatu barang. Produsen menawarkan barangnya tergantung dari tingkat harga. Jika harga tinggi maka produsen menawarkan barang dalam jumlah yang lebih besar.
Back To Top