Dongeng Tradisi Perayaan Imlek

Perayaan Imlek/Perayaan Tahun Baru Cina

Tradisi perayaan Imlek merupakan tradisi masyarakat Tionghoa sejak ribuah tahun yang lalu. Salah satu tradisi dan perayaan termeriah sampai saat ini. Perayaan imlek dihubungkan dengan kisah pengusiran Nian. Masyarakat Cina terdahulu merayakan perayaan ini untuk menyambut perayaan tahun baru berdasarkan kalendar matahari yang disebut yang yang li.
 
Dongeng Tradisi Perayaan Imlek
Gambar jakartabisniscom
 

Dongeng Tradisi Perayaan Imlek

 
Dikisahkan bahwa masyarakat yang tinggal di desa-desa yang ada di Cina, pada setiap musim semi biasanya sibuk dengan pekerjaan mereka menanam padi. Kemudian mereka akan memanen hasil sawah mereka itu pada setiap musim gugur, lalu disimpan di lumbung untuk persiapan menghadapi musim dingin yang akan datang. Karena pada musim dingin kebutuhan akan pangan sangat banyak dibutuhkan, sementara sawah tidak mungkin bisa digarap dan yang tersedia di pasar juga tidak ada. Di samping itu di tengah-tengah penduduk muncul mitos yang sangat menakutkan bahwa pada setiap musim dingin tiba akan datang makhluk menyeramkam ke desa-desa mengganggu masyarakat. Makhluk ini memiliki lima tanduk yang sangat tajam, dengan sepasang mata yang memiliki sorot mengerikan. Selain itu gigi dan kuku-kukunya juga tajam. Di yakni oleh setiap penduduk makhluk aneh dan mengerikan ini tinggal di dasar laut yang sangat dalam dan sangat dingin.

Dikabarkan juga, makhluk ini begitu kuatnya sehingga apabila ia berjalan bukit-bukit dan rumah-rumah yang diinjaknya menjadi hancur. Kesenangan monster ini tiada lain memakan daging manusia hidup yang ditangkapnya. Setiap tahun bilamana malam berganti tahun baru, dia datang dan kemudian menghilang dengan cepat ketika tengah malam tiba. Karena kemunculannya setiap tahun itulah kemudian masyarakat desa menamakan makhluk ini Nian, yang berarti tahun.

Bila tiba malan chu xi (malam tahun baru imlek) yang datang setiap 365 hari sekali, makhluk menakutkan ini muncul ke darat dari kedalaman laut yang sangat dingin untuk mencari mangsa. Dia akan menerkam dan menelan segala makhluk yang ditemukannya, yang membuat masyarakat desa sangat ketakutan dan hanya kuat untuk bersembunyi di dalam hutan di atas bukit dan mengunci rumah dengan rapat untuk menghindarkan diri dari monster Nian ini.

Setelah malam mencekam tersebut berganti pagi di tahun baru, maka orang-orang yang selamat dari Nian jahat itu, sama-sama saling mengucapkan “Gong Xi! Gong Xi! Selamat! Selamat!” Setelah itu sabagai ucapan syukur akan keselamatan mereka itu, penduduk desa beramai-ramai mengadakan perayaan selama lima belas hari. Setelah perayaan selesai mereka mulai disibukkan kembali dengan pekerjaan rutin mereka, yaitu menanam padi. Tetapi tetap saja setiap akhir tahun dan malam baru tiba mereka kembali dihantui oleh monster Nian tersebut. Keadaan ini berlangsung terus-menerus setiap tahun, sehingga mereka tidak pernah bisa tenang. Akhirnya masyarakat desa berkumpul mengadakan musyawarah untuk mengusir makhluk tersebut dari desa mereka.

Di dalam musyawarah tersebut ada yang mengusulkan, Nian dibunuh saja. Tetapi kemudian usul ini ternyata ditolak oleh sebagian orang yang percaya bahwa Nian itu adalah utusan Tuhan. Penolakan itu menyebabkan orang-orang tersebut menjadi bingung dan takut akan murka Tuhan apabila mereka membunuhnya. Sehingga kesudahannya bisa ditebak, tidak dapat diambil kata sepakat. Untung saja di tempat itu hadir juga seorang cerdik pandai desa setempat, yang bernama guru Zhao. Dengan tegas dia mengatakan Nian adalah makhluk jahat bukan utusan Tuhan. Dengan demikian hilanglah keragu-raguan dan rasa takut yang melanda penduduk dan mulai sepakat untuk membunuh atau mengusir Nian.

Seorang pria dari para penduduk yang mengadaka pemufakatan berkata, “Menurut dugaanku Nian takut sama warna merah. Tahun lalu aku memasang lampion dan kain merah di atas pintu rumahku, ternyata makhluk itu tidak menyerang rumahku, tetapi sebaliknya dia menghancurkan rumah-rumah yang tidak dipasangi lampion dan kain merah.” Bahkan kemudian ada yang mengusulkan agar nanti pada saat kemunculan Nian itu, disertai dengan bunyian-bunyian, seperti petasan dan memukul gong dan tambur. Adapula yang mengusulkan setiap orang agar memegang senjata, seperti pedang, tombak, panah, dan senjata lainnya.

Maka, beberapa hari sebelum tahun baru tiba, setiap orang dari penduduk desa tersebut mempersiapkan diri sesuai dengan kesepakatan yang telah mereka ambil. Para wanita desa mulai membuat ikat kepala dan ikat pinggang berwarna merah, yang laki-laki memasang lampion dan kain merah di atas pintu rumah mereka masing-masing. Sedangkan banyak dari kalangan mudanya membentuk grup-grup Barongsai dan berlatih memukul gong dan tambur. Tidak ketinggalan dibuat dan dipersiapkan juga banyak petasan.

Akhirnya, malam baru yang ditunggu-tunggu pun menjelang tiba. Nian akan muncul tepat pergantian malam ke malam tahun baru. Orang-orang desa dengan penuh semangat menunggu kedatangan makhluk itu walaupun mereka dilanda juga rasa takut dan cemas. Tetapi semangat mereka lebih besar dari rasa takut karena harapan yang besar untuk dapat membunuh monster itu.

Tepat pergantian malam ke tahun baru, Nian itu pun muncul, secara serentak orang-orang desa kemudian menyalakan petasan yang bunyinya memekakkan gendang telinga. Gong dan tambur pun dipukul keras-keras dengan irama yang menyakitkan bagi makhluk itu. Kemudian beramai-ramai mereka menghantam dan menghujani tubuh Nian dengan pedang, tombak, panah dan dengan berbagai senjata lainnya. Kontan saja Nian menjerit kesakitan dan ketakutan, dia sama sekali tidak menduga akan diserang oleh penduduk seperti itu. Sambil menjerit dia lari ketakutan dan kembali pulang ke tempat tinggalnya, di laut yang sangat dalam dan dingin. Tentu saja penduduk desa menjadi sangat gembira akan keberhasilan mereka ini mengusir Nian, makhluk yang menakutkan itu. Sejak itu penduduk tidak khawatir dan takut lagi apabila malam tahun baru Imlek tiba, karena mereka sudah tahu bagaimana menghadapi Nian selanjutnya. (Dari berbagai sumber)

Demikianlah Dongeng Tradisi perayaan tahun baru Imlek, yang dirayakan setiap tahun oleh masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Semoga postingan ini dapat menghibur dan bermanfaat bagi para pembaca sekalian. Terima kasih atas kunjungan anda!
Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 7/30/2016