Tindakan Heroik Diberbagai Daerah Pasca Proklamasi Kemerdekaan

Setelah penyebaran berita proklamasi kemerdekaan sampai dan terdengar diberbagai daerah di Indonesia, berbagai tanggapan dan reaksi dari seluruh lapisan masyarakat pun bermunculan. Tapi kebanyakan merasa terpicu adrenalinnya, terbakar semangatnya sehingga memunculkan berbagai tindakan heroik merebut kekuasaan dari tangan Jepang. Berikut tindakan heroik diberbagai daerah pasca penyebaran berita proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Insiden Bendera di Hotel Yamato dan Pertempuran Surabaya


Insiden bendera ini terjadi pada tanggal 22 September 1945. Penyebabnya pasukan Sekutu membantun tentara Belanda bekas tawanan Jepang menguasai Hotel Yamato. Di sana orang-orang Belanda tersebut kemudian mengibarkan bendera Belanda di puncak hotel, sebagai bentuk penghinaan bagi bangsa Indonesia yang baru memproklamirkan kemerdekaannya. Kontan saja ini kemudian menimbulkan amarah terutama dari kalangan pemuda. Beberapa pemuda dengan dimotori oleh Bung Tomo dan Dr. Mustopo, kemudian menyerbu dan menurukan bendera Belanda tersebut dan merobek bagian birunya, sehingga yang tinggal hanya merah putih saja. Bendera merah putih ini kemudian dinaikkan dan dikibarkan.

Keadaan semakin memanas dan memuncak setelah terbunuhnya Jenderal A.W.S. Mallaby, pasukan Sekutu mengeluarkan ultimatum yang memerintahkan kaum pejuang menyerah. Hal ini tidak diindahkan oleh para pejuang, sehingga meletuslah pertempuran yang sengit antara pasukan Sekutu melawan pasukan pejuang (pemuda), perang ini kemudian terkenal dengan Perang 10 November. Perang ini menyebabkan gugurnya banyak pejuang Indonesia. Untuk mengenang peristiwa tersebut, maka setiap tanggal 10 November, diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Di Yogyakarta


Perebutan kekuasaan dilakukan serentak pada tanggal 6 Oktober 1945. Terjadi pemogokan besar-besaran yang dilakukan oleh para pegawai instansi-instansi dan perusahaan milik Jepang sejak pagi. Mereka menuntut agar pemerintah Jepang menyerahkan semua kantor yang dikuasai mereka kepada pemerintah RI. Massa bergerak ke Kotabaru dan bergabung dengan pemuda pejuang. Serangan ke Kotabaru ini mengakibatkan 21 orang gugur dari Indonesia dan 9 orang tewas dari Jepang. Tapi kemudian markas Kotabaru ini berhasil diduduki, dan Yogyakarta berada di bawah kekuasaan Republik Indonesia. Baca juga Dukungan Kesultanan Yogyakarta Untuk Indonesia Merdeka.

Medan Area


Pasukan Sekutu di bawah pimpinan Jenderal T.E.D. Kelly tiba di Sumatera Utara pada tanggal 9 Oktober 1945. Kedatangan Sekutu ini bersama NICA. Kecongkakan Pasukan NICA (Belanda) di atas takaran ini memicu kemarahan Pemuda Medan, sehingga mulai muncullah bentrokan. Bentrokan pertama pada tanggal 13 Oktober 1945 di sebutah hotel di jalan Bali dipicu oleh tindakan seorang penghuni hotel yang merampas dan menginjak lencana merah putih yang dipakai oleh seorang Indonesia. Bentrokan ini menelan korban luka sebanyak 96 orang, yang sebagian besarnya NICA. Permusuhan antara Sekutu yang diboncengi NICA semakin meluas, mereka memasang papan-papan yang bertuliskan Fixed Baundaries Medan Area di berbagai sudut kota. Tulisan-tulisan inilah yang kemudian memunculkan istilah yang terkenal dengan Medan Area.

Pertempuran Lima Hari di Semarang


Pertempuran ini terjadi pada tanggal 15 - 20 Oktober 1945. Pertempuran ini diawali dari peristiwa kaburnya para tawanan bekas tentara Jepang sejumlah 400 orang dalam perjalanannya menuju penjara Bulu. Para tawanan ini ditahan oleh para pemuda pada tanggal 14 Oktober, sehari sebelum terjadi pertempuran. Tentara Jepang yang melarikan diri ini kemudian meminta bantuan kepada Batalion Kido. Tindakan ini direspon oleh para pemuda dengan merebut serta menduduki kantor pemerintahan Jepang. Pasukan Jepang pun ditangkap dan ditawan. Namun keesokan harinya yaitu tanggal 15 Oktober pasukan Jepang melakukan serbuan ke Semarang. Maka terjadilah pertempuran antara pemuda dengan pasukan Jepang yang berlangsung selama lima hari. Menurut beberapa sumber kurang lebih sebanyak 2.000 orang Indonesia menjadi korban, dan sebanyak 100 orang Jepang tewas.

Perang lima hari di semarang ini juga disulut oleh kemarahan rakyat atas penembakan sewenang-wenang terntara Jepang terhadap dr. Karyadi salah seorang dokter yang akan memeriksa sumber air minum warga Semarang yang diracun oleh Jepang. Pertempuran lima hari ini baru berhenti setelah pimpinan TKR berunding dengan pasukan Jepang. Usaha perdamaian antara dua kubu ini semakin cepat setelah pasukan Sekutu tiba di Indonesia pada tanggal 20 Oktober 1945. Selanjutnya, Sekutu menawan dan melucuti senjata tentara Jepang.

Di Sulawesi Selatan


Di Sulawesi Selatan, Raja Bone (Arumpone) La Mappanjuki, yang masih tetap ingat akan pertempuran-pertempuran melawan Belanda pada awal abad XX menyatakan dukungannya terhadap negara kesatuan dan pemerintahan Republik Indonesia. Mayoritas raja-raja suku Makasar dan Bugis mengikuti jejak Raja Bone mengakui kekuasaan Dr. Sam Ratulangie yang ditunjuk pemerintah sebagai gubernur republik Indonesia di Sulawesi

Pada tanggal 28 Oktober 1945 para pemuda yang tergabung dalam Barisan Berani Mati bergerak untuk melakukan pendudukan gedung yang dianggap penting seperti radio, tangsi militer, dan pos polisi. Gerakan ini bertujuan untuk menegakkan dan membela proklamasi kemerdekaan Indonesia. Gerakan ini terus menjalar ke daerah Gorontalo dan Minahasa.

Bandung Lautan Api


Peristiwa Bandung Lautan Api mungkin pertempuran yang paling banyak ditahu oleh seluruh rakyat Indonesia, tentu saja di samping pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Adapun penyebab pertempuran ini bermula dari ultimatum yang dikeluarkan Sekutu pada tanggal 23 Maret 1946 terhadap TRI (Tentara Republik Indonesia) di Bandung.

Ultimatun tersebut berupa perintah bagi TRI supaya segera mengosongkan Kota Bandung dan mundur sejauh 11 km. Tentu saja ultimatum tersebut tidak diindahkan oleh TRI sehingga berakibat pada terjadinya pertempuran. Setelah TRI merasa terdesak, Panglima Divisi III TRI memerintahkan untuk mengosongkan Kota Bandung, tetapi sebelumnya harus membakar semua fasilitas penting, termasuk rumah warga dan tentara sendiri. Semua gedung dan rumah pun kemudian dibakar oleh TRI dan rakyat. Peristiwa ini kemudian terkenal dengan Bandung Lautan Api.

Demikianlah berbagai tindakan heroik diberbagai daerah setelah proklamasi kemerdekaan RI dikumandagkan oleh dua bapak bangsa kita Sukarno dan Hatta. Sebenarnya peristiwa heroik tersebut tidak hanya terjadi pada daerah-daerah yang kita sebutkan di atas, tetapi juga terjadi pada semua daerah yang ada di Indonesia. Semoga bermanfaat!
 


Comments

  1. sejarah Indonesia memang masih banyak yang bisa digali...semoga semangat bisa menular ke kita sekarang

    ReplyDelete
  2. Aamiin. Terima kasih telah berkomentar, mas Riva Mobi.

    ReplyDelete

Post a Comment