Penerapan Metode Active Knowledge Sharing

Penerapan Metode Active Knowledge Sharing
Strategi pembelajaran dengan metode active knowledge sharing (saling tukar pengetahuan) sangat bagus untuk membangkitkan minat peserta didik di menit-menit pertama pembelajaran. Metode ini juga cukup baik digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan siswa mengenai yang hendak dibahas. Rasa ingin tahu, gemar membaca, dan komunikatif merupakan nilai karekter yang bisa dicapai dengan penerapan metode Active Knowledge Sharing tersebut.

Prosedur yang digunakan dalam menerapkan metode Active Knowledge Sharing ini, adalah:

1. Mempersiapkan beberapa pertanyaan tentang materi yang akan dibahas.

Guru hendaknya sudah mempersiapkan daftar beberapa pertanyaan berkaitan dengan tema pelajaran yang akan dijelaskan di depan peserta didik. Buatlah pertanyaan berupa atau tentang:
  • kata-kata yang akan didefinisikan
  • Pertanyaan dalam bentuk pilihan “benar dan salah” tentang fakta-fakta atau konsep. Misal: Meningkatnya permintaan suatu barang akan berakibat pada naiknya harga barang tersebut: a. benar; b. salah. Petanyaan juga dapat berbentuk pilihan ganda.
  •  Tokoh-tokoh atau ahli-ahli yang harus dapat dikenali oleh peserta didik
  • Aksi-aksi yang dapat dilakukan oleh seseorang (tokoh) dalam memecahkan satu atau beberapa masalah. Biasanya pertanyaan di awali dengan kata “bagaimana”. Contoh: Bagaimana Adam Smith merumuskan dasar-dasar teori ekonomi kapitalis?
  • Meminta peserta didik untuk melengkapi kata atau kalimat dari pertanyaan-pertanyaan yang sengaja dibuat tidak lengkap. Misal: …….. adalah bagian terkecil dari sebuah benda.
2. Arahkan siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan baik

3. Dorong peserta didik untuk bertanya kepada temannya yang lain mengenai soal-soal yang tidak mampu untuk dijawab dan dorong juga mereka untuk saling membantu satu sama lain.

4. Kemudian ulas atau bahas jawaban-jawaban dari para peserta didik tadi, dan isi jawaban untuk pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh para siswa. Selanjutnya ulasan-ulasan ini, digunakan sebagai informasi untuk memperkenalkan topik-topik penting pada mata pelajaran yang bersangkutan.

Penerapan strategi pembelajaran dengan metode active knowledge learning tersebut dapat juga dilakukan dengan cara dan langkah-langkah berikut ini:

1. Bagikan satu lembar kartu indeks kepada masing-masing peserta didik, di mana masing-masing peserta didik diminta untuk mengisi kartu tersebut dengan berbagai informasi yang diketahui berkaitan dengan materi yang dibahas. Setelah itu minta siswa bertukar kartu dengan siswa yang lain untuk mencocokkan dan membahas jawaban mereka dan meminta mereka menulis informasi baru yang didapatkan dari jawaban temannya. Selanjutnya guru membahas informasi yang berhasil dikumpulkan tersebut.

2. Berikan pertanyaan bersifat opini dan bukan pertanyaan faktual. Atau kalau guru ingin juga memberi pertanyaa faktual, sebaiknya gabungkan pertanyaan faktual dengan pertanyaan opini, sehingga nalar dan pemahaman siswa lebih terarah.

Silahkan anda baca juga: Metode-Metode Pembelajaran Aktif

Demikian pembahasan kita kali ini tentang Penerapan Metode Active Knowledge Sharing. Semoga bermanfaat. Terima kasih.
NILAI-NILAI KARAKTER DALAM CTL

NILAI-NILAI KARAKTER DALAM CTL

Sebelum Anda melanjutkan membaca artikel mengenai nilai-nilai karakter dalam CTL ini, ada baiknya pembaca sekalian membaca artikel saya sebelumnya: Strategi Pembelajaran Konstekstual (CTL) yang sudah saya posting beberapa waktu yang lalu, biar nyambung.

Oke, sekarang waktunya kita melanjutkan, apa yang menjadi pembahasan inti kita.

Berikut ini adalah nilai-nilai karakter yang didapat peserta didik dalam penerapan strategi pembelajaran kontekstual. (Dikutip dari buku Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter, oleh Suyadi, M.Pd.I)

1. Kerja Keras

Tidak diragukan lagi bahwa strategi pembelajaran kontekstual menuntut peserta didik belajar keras untuk menguasai materi pembelajaran. Kemudian menghubungkannya dengan pengalaman hidup sehari-hari, selanjutnya digunakan sebagai strategi pemecahan masalah sehari-hari. Tentu saja pola pembelajaran seperti ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan memeras seluruh kemampuan, baik tenaga maupun pemikiran.

2. Rasa Ingin Tahu

Bagi peserta didik yang belajar dengan strategi pembelajaran kontekstual, menguasai pembelajaran yang diberikan guru di kelas saja tidak cukup. Secara alamiah peserta didik akan terus mencari tahu, apa dan bagaimana materi tersebut berhubungan dan dapat digunakan sebagai pemecahan masalah. Memang banyak ide maupun gagasan yang muncul, tetapi dalam prakteknya tidak sedikit peserta didik yang gagal dan harus mencari ide lain untuk menghubungkan dan menggunakan materi yang telah dikuasai tersebut sebagai problem solver. Namun kegagalan demi kegagalan tidak menyurutkan peserta didik untuk memecahkan masalah, karena ia akan terus berusaha mencari cara lain yang dapat ditempuh. Hal ini menunjukkan bahwa strategi pembelajaran kontekstual mampu menanamkan nilai karakter, khususnya menumbuhkan rasa ingin tahu.

3. Kreatif

Masih berhubungan dengan nilai karakter rasa ingin tahu, nilai karakter lain dari penggunaan strategi pembelajaran kontekstual adalah kreatif. Proses menghubungkan materi pelajaran di dalam kelas ke dalam pengalaman hidup sehari-hari, terlebih lagi menggunakannya sebagai problem solver, dibutuhkan kreatifitas yang tinggi, bukan sekadar intelektualitas. Cara-cara kreatif biasanya lebih elegan dan tepat sasaran daripada cara-cara intelektualitas. Mengapa demikian? Karena kreatifitas adalah kerja otak kanan yang syarat dengan fleksibilitas, keindahan dan seni, sedangkan intelektualitas syarat dengan linieritas, sistematisasi yang rumit, kaku, prosedural dan ketat. Dengan demikian, strategi pembelajaran kontekstual mempunyai kekayaan kreatifitas yang tinggi.

4. Mandiri

Strategi pembelajaran kontekstual (CTL) menuntut kemandirian yang tinggi, meskipun strategi ini dapat dilakukan secara kelompok. Hal ini karena Strategi pembelajaran kontekstual secara tidak langsung menyangsikan kegagalan harus ditanggung sendiri jika ternyata cara mengatasi masalah yang dipilih gagal. Konsekuensi ini menuntut kemandirian yang tinggi, sehingga peserta didik terdorong untuk memilih cara-cara mengatasi masalah dengan penuh kepercayaan diri, dan tidak terpikir sedikitpun untuk menyalahkan orang lain atas kegagalan dirinya.

5. Tanggung Jawab

Nilai karakter dalam strategi pembelajaran kontekstual yang lain adalah nilai tanggung jawab. Nilai karakter ini sebenarnya hanyalah kelanjutan dari nilai-nila karakter yang lain, khususnya kreatifitas dan kemandirian. Kreatifitas diperlukan keberanian untuk mengambil risiko kegagalan, sedangkan kemandirian diperlukan sikap keberanian bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Dengan demikian, nilai tanggung jawab yang terkandung dalam strategi pembelajaran kontekstual merupakan keniscayaan yang tidak dapat diragukan lagi.

6. Peduli Lingkungan Sosial

Sebagaimana disinggung di atas, bahwa strategi pembelajaran kontekstual dapat digunakan secara kelompok maupun individu. Ketika strategi ini digunakan secara kelompok, secara otomatis hal itu dapat menanamkan nilai karakter kepedulian sosial. Sedangkan kemampuan peserta didik dalam mengaitkan materi kelas dengan kehidupan nyata serta menggunakannya sebagai problem solver, secara otomatis dapat menanamkan nilai karakter kepedulian lingkungan.

Terima kasih Anda telah membaca artikel "Nilai-Nilai Karakter dalam CTL" ini. Silahkan telusuri terus artikel-artikel menarik lainnya di blog ini! Insya Allah semuanya bermanfaat.

STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL - CTL

STRATEGI PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL - CTL
Penerapan CTL mendorong peserta didik menerapkan pengetahuannya dalam hidup sehari-hari
Strategi Pembelajaran Kontekstual - CTL. Tuntutan kepada dipenuhinya kebutuhan akan tenaga kerja yang ahli dan terampil pada bidangnya, membawa perubahan yang cukup signifikan pada dunia pendidikan. Para ahli dibidang pendidikan berupaya untuk memenuhi kebutuhan itu dengan mempersiapkan tenaga-tenaga yang mempunyai kemampuan skill yang mumpuni melalui sekolah-sekolah. Untuk keperluan tersebut maka harus dibutuhkan strategi pembelajaran yang jitu dalam menciptakan sumber daya manusia yang memang dibutuhkan oleh dunia kerja.

Strategi pembelajaran kontekstual salah satunya dapat digunakan untuk menghasilkan para tamatan sekolah dengan skill yang dibutuhkan atau bersentuhan langsung dengan dunia kerja. Karena dalam strategi CTL materi pelajaran diterapkan dan disesuaikan dengan konteks (keadaan) yang sesuai dilingkungan tempat tinggal peserta didik. Atau dengan kata lain kelas diatur menjadi miniatur lingkungan mini, dimana di dalamnya terjadi dialog antara teori dan praktik, atau identitas dan realitas.

Untuk lebih jelasnya, mari kita definisikan pengertian dari Contextual Teaching anda Learning ini dengan mengutip pendapat Elaine B. Johnson.

Strategi pembelajaran Contextual Teacing and Learning (CTL) merupakan strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan realitas kehidupan nyata, sehingga mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Elaine B. Johnson, 2010).

Sebagai konsekwensi diterapkannya strategi pembelajaran CTL ini adalah bahwa peserta didik tidak sekedar mendengar dan mencatat pelajaran dari guru, melainkan harus mengalaminya sendiri secara langsung. Pengalaman langsung ini menuntut adanya laboraturium atau ruang praktik pembelajaran.

Peserta didik disyaratkan mampu sendiri menyusun atau mengkontruksi pengetahuan yang diterimanya. Artinya materi pelajaran bukan untuk dihafalkan melainkan dikontruksi secara langsung melalui pengalaman hidup sehari-hari. Semakin banyak pengalaman atau praktik, semakin banyak pengetahuan yang berhasil dikontruksi siswa. Sebalikya sedikit pengalaman walaupun banyak teori yang didapat tidak akan mampu menambah kekayaan intelektual siswa.

Kesimpulan:

Strategi pembelajaran kontekstual - CTL mendorong peserta didik untuk berpikir keras menguasai materi pelajaran, kemudian mempraktikkannya dan menghubungkannya dengan pengalaman hidup sehari-hari.

PERKEMBANGAN SOSIAL DAN MORAL SISWA

PERKEMBANGAN SOSIAL DAN MORAL SISWA
Perkembangan Sosial dan Moral Siswa. Pendidikan adalah upaya penumbuhkembangan sumber daya manusia melalui proses hubungan interpersonal (hubungan antarpribadi) yang berlangsung dalam lingkungan masyarakat yang terorganisasi, dalam hal ini masyarakat pendidikan dan keluarga (tinjauan psikososial). Karena itu tak mengherankan jika seorang siswa menggantungkan responnya terhadap pelajaran di kelas pada persepsinya terhadap guru pengajar dan teman-taman sekelasnya. Positif atau negatifnya persepsi siswa terhadap guru dan teman-temannya itu sangat mempengaruhi kualitas hubungan sosial para siswa dengan lingkungan sosial kelasnya dan bahkan mungkin dengan lingkungan sekolahnya.

Selanjutnya pendidikan yang berlangsung secara formal di sekolah dan yang secara informal di lingkungan keluarga memiliki peranana penting dalam mengembangkan psikosial siswa. Perkembangan psikososial siswa, atau sebut saja perkembangan sosial siswa, adalah proses perkembangan kepribadian siswa selaku seorang anggota masyarakat dalam hubungan dengan orang lain.

Perkembangan ini berlangsung sejak masa bayi hingga akhit hayatnya. Perkembangan sosial, menurut Bruno (1987), merupakan proses pembentukan social self (Pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya.

Seperti dalam proses-proses perkembagan lainnya, proses perkembangan sosial dan moral siswa juga selalu berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinya, kualitas hasil perkembangan sosial siswa sangat tergantung pada proses kualitas belajar (khususnya belajar sosial) siswa tersebut baik dilingkungan sekolah dan keluarga maupun di lingkungan yang lebih luas. Ini bermakna bahwa proses belajar itu amat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral, agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral lainnya yang berlaku dalam masyarakat siswa yang bersangkutan.

Dalam dunia psikologi belajar terdapat banyak aliran pemikiran yang berhubungan dengan perkembangan sosial.

Di antara ragam mazhab perkembangan sosial ini yang paling menonjol dan layak dijadikan rujukan adalah: 1) aliran teori cognitive psychology dengan tokoh utama Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg; 2) aliran teori social learning dengan tokoh utama Albert Bandura dan R.H. Walters.

Tokoh-tokoh psikologi tersebut telah banyak melakukan penelitian dan pengkajian perkembangan sosial anak-anak usia sekolah dasar dan menengah dengan penekanan khusus pada perkembangan moralitas mereka. Maksudnya, setiap tahap perkembangan sosial anak selalu dihubungkan dengan perkembangan perilaku moral , yakni perilaku baik dan buruk menurut norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. (Psikologi Belajar, Muhibbin Syah).

Cara dan Strategi Membaca Aktif

Di dalam cara membaca aktif ada beberapa strategi umum yang diperlukan untuk membaca dan memahami literatur atau bacaan yang sedang ada dihadapan anak didik. 

Cara dan Strategi Membaca Aktif
Bagaimana, kemudian, kita bisa mempromosikan membaca aktif di kalangan siswa kita? Saran berikut akan membantu siswa untuk berpikir kritis dan membuat mereka untuk lebih memahami teks. Saran ini intinya ditujukan untuk membaca informasional literatur dan fiksi. Standar ini direkomendasikan untuk pelajar kelas 6 dan juga masih bisa digunakan pada level kelas-kelas yang lainnya juga. Silahkan disimak! 

(1) Sorot Teks. Strategi ini bukan sesuatu yang baru, dan kebanyakan orang mengingat untuk menyoroti (buku teks) di beberapa titik dalam karir pendidikan mereka. Standby lama ini masih efektif, karena menyoroti (menandai) poin penting membantu siswa lebih memahami apa yang mereka baca. Dengan cara ini, siswa dapat "menentukan ide sentral dari tulisan dan bagaimana hal itu disampaikan melalui rincian tertentu". Dengan menyoroti selama atau setelah membaca, anak dapat mengidentifikasi rincian kunci dan kemudian menyimpulkan gagasan utama, tema, dll
(2) Ajukan pertanyaan sebelum, selama dan setelah membaca Membimbing siswa didalam memberikan pertanyaan sebelum mereka membaca membantu mereka untuk fokus pada bagian atau bab yang akan datang , sementara mengajukan pertanyaan selama membaca memungkinkan siswa untuk memantau pemahaman mereka sendiri. Pertanyaan ini mungkin dimulai dengan frase seperti "Aku ingin tahu. . . "Atau" Mengapa karakter. . . "Atau" Bagaimana. . . "Mengajukan pertanyaan setelah membaca mencerminkan siswa tetap pada alur, dan kadang-kadang ini berarti bahwa pembaca harus kembali ke teks (dan membaca ulang bagian-bagian) untuk mencari jawaban atau untuk menemukan bukti yang mendukung membuat kesimpulan. Mengajukan pertanyaan mengharuskan siswa untuk "menganalisis bagaimana kalimat, paragraf, [dll]. . . cocok dengan struktur teks secara keseluruhan.
(3) Buat heading dan judul untuk bacaan nonfiksi, guru mungkin ingin menghapus judul artikel dan sub judul dan meminta siswa untuk membuatnya sendiri. Hal ini akan memaksa pembaca untuk mengidentifikasi tema penting dan mensintesis informasi dalam rangka menciptakan judul dan sub judul yang sesuai. Selain itu, mahasiswa harus menentukan pentingnya, strategi membaca lain yang cocok untuk pemahaman dan membaca aktif.
(4) Membuat catatan pada bagian-bagian penting dari teks yang dibaca sehingga mendapatkan pemahaman dan menemukan bahwa strategi ini membuahkan hasil positif. Catatan penting ini diisi dengan istilah kunci, rumusan-rumusan dan lainnya, dan pada akhirnya catatan tersebut harus dibaca siswa, direnungkan dan dilatih sehingga tidak pasif pada satu aktivitas saja. Hal ini menjadikan siswa lebih memahami materi pada teks yang dibaca. Meminta siswa untuk membuat catatan dapat mengubah bacaan mereka di bidang konten menjadi pengalaman yang lebih aktif.
Back To Top