Home » » Peranan Pers dalam Menumbuhkembangkan Kesadaran Nasionalisme Indonesia

Peranan Pers dalam Menumbuhkembangkan Kesadaran Nasionalisme Indonesia

Peranan Pers dalam Menumbuhkembangkan Kesadaran Nasionalisme Indonesia
Peranan Pers dalam Menumbuhkembangkan Kesadaran Nasionalisme Indonesia. Pada artikel kali ini kembali kita berkutat pada masa kolonialisme dan imperialisme bangsa barat di Indonesia, khususnya kolonialisme Belanda. Sebagaimana kita ketahui Kolonial Belanda sangat lama bercokol di bumi nusantara kita ini. Banyak hal upaya yang dilalui oleh bangsa Indonesia untuk menentang penjajahan ini salah satunya dengan melibatkan peranan pers terutama untuk menumbuhkembangkan kesadaran nasionalisme bangsa atau rakyat Indonesia.

Setelah Ratu Belanda mengesahkan politik etis dalam pidatonya pada tahun 1901, pemerintah Belanda mulai memperhatikan nasib rakyat Indonesia melalui penyelenggaraan irigasi, transmigrasi, dan pendidikan. Salah satu dari bagian edukasi atau pendidikan yang dimaksud adalah dengan pemberian izin menerbitkan surat-surat kabar atau pers di Indonesia.

Penerbitan koran di Indonesia mencapai puncaknya pada akhir abad ke 19. Pada awalnya perkembangannya, media massa berupa surat kabar dan majalah hanya dinikmati kalangan Belanda dan orang-orang Cina. Sebut saja korang Bataviase Nouvelles di Batavia yang terbit tahun 1744 dan De Locomotief tahun 1852 di Semarang. 

Dan yang lebih lama dari itu adalah pada tahun 1659 Belanda mendirikan teknologi percetakan pertama di Batavia, dan menerbitkan courant (koran) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat perkotaan akan informasi.

Media massa yang pertama muncul menggunakan bahasa Melayu dan paling banyak didanai serta diterbitkan oleh kalangan Cina. Kendati demikian, rakyat pribumi menyambut baik kehadiran media massa yang ditandai dengan meningkatnya minat baca di kalangan pribumi.

Koran daerah yang pertama muncul adalah Bromartani, di Surakarta. Dicetak pada tahun 1855 yang dipimpin oleh seorang Indo-Eropa, G.F. Winter. Ada juga koran yang lebih luas jangkauannya seperti koran Medan Prijaji. Koran untuk menyuarakan kepentingan golongan priyayi dan diterbitkan tahun 1907 di Bandung. Dan masih banyak lagi koran-koran yang beredar di masyarakat dan diterbitkan oleh kalangan pengusaha Cina dan pribumi.

Untuk koran Medan Prijaji, admin pandang perlu kita sedikit mengenal tokoh dibalik koran tersebut. Koran Medan Prijaji dipimpin oleh R.M. Tirtoadisuryo. Ia dikenal sebagai intelektual, wartawan pribumi pertama, dan pengusaha pribumi pertama yang bergerak di bidang penerbitan dan percetakan. Di tangannyalah, koran berkembang menjadi media untuk membentuk opini umum. Misi yang ada di dalam korannya berbunyi, "Organ boeat segala bangsa jang terprentah di H.O. Tempat akan memboeka Suaranja Anak Hindia. (H.O adalah singkatan dari Hindia Olanda).

Pada awal abad XX, seiring dengan bangkitnya kesadaran nasional, maka pers telah dimanfaatkan sebagai sarana untuk menyebarluaskan cita-cita mencapai Indonesia merdeka. Selain itu, pers juga diusahakan sebagai alat untuk memperkuat cita-cita kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia. Pada masa pergerakan nasional, terbit surat kabar yang dikelola organisasi-organisasi pergerakan, seperti :
  1. Darmo Kondo dikelola oleh Budi Utomo
  2. Oetoesan Hindia dikelola oleh Serikat Islam, serta
  3. Het Tijdschrift dan De Expres yang diterbitkan Indische Partij.
Koran-koran dan majalah ini digunakan untuk membangkitkan nasionalisme di kalangan bangsa Indonesia. Tapi perlu dicatat surat kabar dan majalah pribumi ini tidak hanya membahas politik, tetapi juga masalah-masalah ekonomi, sosial, budaya, dan bahkan menyangkut soal keamanan dalam negeri.

Pesatnya perkembangan surat kabar dan majalah ini, menyebabkan pemerintah Hindia Belanda mencoba untuk menahan laju pengaruhnya. Upaya yang dilakukan adalah mengawasi pers bumi putra. Belanda memanfaatkan Staatblad (Lembaran Negara) Nomor 74 Tahun 1856. Dengan ancaman hukuman penjara selama 3 sampai 12 bulan bagi penerbit yang mengganggu ketertiban umum.

Tapi ancaman ini tidak menyurutkan semangat para pemuda Indonesia, buktinya kembali muncul majalah Hindia Poetra yang diterbitkan oleh Indische Vereeniging pada tahun 1916. Indische Vereeniging ini selanjutnya lebih dikenal dengan nama Perhimpunan Indonesia. Dan nama majalahnya pun kemudian diganti dengan nama Indonesia Merdeka.

Selanjutnya, mulai tahun 1924 majalah Indonesia Merdeka diterbitkan dalam dua bahasa, Indonesia dan Belanda. Untuk menjaga kerahasian dan keamanan, identitas penulis artikel pada majalah tersebut tidak dicantumkan, penyebarannya pun dilakukan secara rahasia. 

Meskipun sifatnya demikian, majalah ini tetap memiliki pelanggan yang banyak dari kalangan mahasiswa, guru besar, pejabat pemerintah, wiraswasta, dan redaktur surat kabar. Mereka inilah yang kemudian meneruskan dan menyebarluaskan cita-cita persatuan dan kemerdekaan Indonesia.

Kesimpulan

  •  Teknologi percetakan pertama ada di Batavia yang dibangun oleh Belanda pada tahun 1659.
  • Politik etis yang diterapkan oleh pemerintah Belanda memberikan angin segar kepada para  pemuda pribumi untuk berjuang melalui pers, ini ditandai dengan banyaknya bermunculan koran-koran yang diterbitkan oleh pribumi pada akhir abad 19 dan awal abad 20.
  • Pada perkembangan selanjutnya pers digunakan oleh para tokoh pergerakan nasional untuk menumbuhkembangkan kesadaran nasionalisme Indonesia untuk menuju Indonesia merdeka

Demikianlah sekilas peranan pers dalam menumbuhkembangkan kesadaran nasionalisme Indonesia. Pers mampu menjabarkan nasionalisme yang notebane-nya konsep Barat secara jitu ke dalam pengertian yang mudah dipahami rakyat, oleh para tokoh pergerakan melalui artikel-artikelnya. Semoga bermanfaat!

 



 



Azanul Ahyan
Azanul Ahyan Updated at: 11/01/2015

0 komentar:

Post a Comment