Faktor-Faktor Penyebab Penyimpangan

Faktor-Faktor Penyebab Penyimpangan

Faktor-Faktor Penyebab Penyimpangan. Kita mengetahui manusia di dalam masyarakatnya terikat oleh norma-norma dan nilai-nilai yang ada. NOrma dan nilai tersebut dimaksudkan untuk menciptakan kehidupan yang teratur dan tertib. Tetapi sebagaimana yang kita ketahui, tidak semua orang mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan norma dan nilai yang terdapat pada masyarakat.Keadaan inilah yang menyebabkan terjadinya penyimpangan. Jadi, Penyimpangan adalah perilaku individu atau bisa juga sekelompok masyarakat yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang berlaku.

Perilaku menyimpang dapat terjadi di lingkungan keluarga dan masyarakat. Tergantung dimana dan siapa yang melakukan penyimpangan tersebut. Seorang ayah yang memukul isteri dan anaknya, atau dapat pula seorang majikan yang menyiksa pembantunya merupakan contoh dari sekian banyak contoh perilaku menyimpang yang terdapat di dalam keluarga. Sedangkan perilkau menyimpang yang terdapat pada masyarakat dapat kita lihat bentuknya seperti pencurian, penodongan, perjudian, pelacuran, mabuk-mabukan, penyalahgunaan narkotika dan tindakan-tindakan kriminal lainnya. Apa pun bentuk penyimpangan yang dilakukan merupakan penyakit sosial yang harus dicegah karena bisa merugikan individu atau anggota masyarakat lain yang ada di sekitarnya.

Beberapa Faktor Penyebab Terjadinya Penyimpangan

Untuk lebih memahami pengetahuan kita tentang perilaku menyimpang ini, mari kita cermati bersama apa saja yang mendorong atau memicu terjadinya perilaku penyimpangan-penyimpangan tersebut.

1. Individu tidak mampu beradaptasi dengan norma dan nilai di mana dia berada

Kita lihat ada orang yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata, namun dia kurang peka terhadap kondisi lingkungan tempatnya sedang berada. Dia tidak sanggup atau tidak bisa menyesuaikan dirinya dengan baik terhadap norma dan nilai dimana dia sedang tinggal. Ketidaksanggupan menyerap  nilai dan norma ini menjadikan ia tidak sanggup dalam menjalankan peran sesuai dengan harapan masyarakat.

2. Keluarga yang tidak harmonis atau Broken Home

Sebagai bagian dari masyarakat yang terkecil, keluarga merupakan tempat paling dasar dan utama pendidikan yang didapat oleh seorang individu semenjak dia lahir. Pendidikan yang diterima anak akan sangat baik dan efektif, Jika kondisi lingkungan keluarga baik dan akan terjadi sebaliknya, bila tidak terdapat keharmonisan dalam keluarga. Peran dan kepedulian yang baik dan terus menerus kepada anak, akan berdampak pada sikap dan perilaku anak yang baik, postif dan penuh semangat. Menjadikan anak pribadi yang disenangi oleh keluarga dan masyarakat sekitarnya. Sedangkan anak akan cenderung memiliki perilaku yang menyimpang, jika si anak tidak sanggup menerima norma dan nilai yang disosialisasikan dalam keluarga. Hal ini terjadi karena tidak adanya keharmonisan dalam keluarga yang disebabkan oleh percekcokan, kedua orang tua yang sibuk, perceraian, dan lain-lainnya sehingga orang tua kurang peduli dan kurang perhatian terhadap perkembangan anak.

3. Keadaan Mental yang Kurang Sehat

Himpitan dan tekanan hidup yang tidak sanggup diterima dapat menjadikan seseorang mengalami stress. Jika stress ini tidak segera diatasi akan menjadi penyakit mental. Kurang sehatnya kondisi jiwa ini akan menyebabkan si penderita tidak memiliki kepedulian dan perasaan terhadap orang lain disekitarnya. Terjadinya kasus penganiayaan atau pun pembunuhan seorang ibu terhadap anak, tanpa memiliki rasa bersalah dan penyesalan walaupun sudah ditangkap oleh polisi. Merupakan salah satu tindak kejahatan yang disebabkan oleh kondisi mental yang kurang sehat ini.

4. Desakan Ekonomi

Tidak tersedianya lapangan pekerjaan akan menimbulkan terjadinya pengangguran. Tingkat pengangguran akan berdampak signifan terhadap rendahnya penghasilan. Rendahnya penghasilan ini juga disebabkan pekerjaan dengan upah yang rendah dan sebagainya. Orang-orang yang memiliki penghasilan rendah akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, lebih-lebih disaat harga-harga mengalami kenaikan. Kondisi ini menyebabkan banyak orang nekat untuk melakukan tindak kejahatan untuk memenuhi kebutuhan ekonominya yang mendesak ini. Contoh- contoh penyimpangan sosial karena desakan ekonomi ini, seperti pencurian, perampokan, pelacuran (menjual diri), dan juga koropsi.

5. Pelampiasan Rasa Kecewa yang Pernah Dialami

Orang yang pernah mengalami kecewaan biasanya tapi tidak semua, akan cenderung mengobati rasa kecewanya pada hal-hal negatif. Padahal, orang tersebut tahu mengobati rasa kecewa dengan perbuatan negatif tidak akan dapat menghilangkan rasa kecewa tersebut malah justeru membuat keadaan semakin parah. Contoh yang bisa kita lihat, seperti menjadi pelacur karena ditinggalkan oleh pacar atau suami, mengonsumsi minuman-minuman keras dan narkotika.

6. Pengaruh Pergaulan dan Media Massa

Pergaulan seorang individu dengan sekelompok orang yang memeliki perilaku yang menyimpang akan menjadikan seseorang tersebut akan ikut berperilaku yang sama. Karena dalam pergaulan seperti itu akan timbul rasa solidaritas terhadap kawan sebagai tanda kesetiaan atau rasa setia kawan. Ini adalah peran orang tua untuk memperhatikan dan mengarahkan anaknya sehingga tidak terjerumus dalam pergaulan yang tidak baik.

Media massa juga memiliki peranan yang besar dalam memperngaruhi perilaku seseorang. Sajian berita dan tontonan yang tidak baik atau tidak sesuai dengan budaya kita akan menyebabkan terjadinya perilaku yang negatif dan menyimpang. Peran orang tua juga untuk membimbing dan memilihkan anaknya tontonan dan bacaan yang baik sesuai dengan umur dan nilai yang ditanamkan. Contoh penyimpangan dari media massa misalnya melalui tv, film, dan majalah.

7. Keinginan Dipuji


Individu dapat bertindak menyimpang karena ada keinginan untuk mendapat pujian dari orang lain. Misalnya seseorang yang selalu hidup mewah, menggunakan mobil mewah dan pakaian bagus-bagus dan mahal. Orang-orang seperti ini cenderung mendapat pujian dan rasa kagum dari orang lain. Karena itu dia memenuhi standar hidupnya tersebut dengan berbagai cara seperti korupsi alias maling, melacurkan diri, dan lainnya.

8. Lebih Memilih Budaya yang Menyimpang

Perilaku menyimpang juga bisa terjadi karena akibat proses sosialisasi dari nilai sub kebudayaan yang menyimpang. Artinya individu lebih memilih nilai subkebudayaan yang menyimpang, yaitu suatu kebudayaan khusus yang kaidahnya bertentangan dengan norma yang umum di masyarakat. Contohnya, kehidupan di lingkungan prostitusi dan perjudian. Pada lingkungan tersebut individu yang mempunyai pola perilaku menyimpang dianggap wajar karena sudah tertanam dalam pribadi pelaku, meskipun oleh masyarakat secara umum tindakan tersebut tidak dibenarkan.

9. Adanya Ikatan Sosial yang berlainan

Individu yang hidup di tengah masyarakat sudah pasti akan menemui berbagai kelompok masyarakat yang berlainan. Orang cenderung akan bergaul dengan kelompok yang disukai dan dihargainya. Dalam proses tersebut seseorang akan memperoleh pola-pola sikap dan perilaku kelompoknya. Jika kelompok yang menjadi acuannya ternyata berperilaku menyimpang maka seseorang tersebut juga akan berperilaku menyimpang.


 


Comments