Peristiwa-Peristiwa Penting di Palestina

Peristiwa-Peristiwa Penting di Palestina
Palestina merupakan sebuah negara atau bangsa yang terletak di Timur Tengah, tepatnya berada di antara Laut Tengah dan Sungai Yordania. Tanah Palestina didiami oleh dua etnis besar yaitu etnis Arab dan etnis Israel. Kedua suku bangsa ini dalam sepanjang sejarahnya tidak pernah berdamai secara permanen. 

Yahudi Israel menganggap wilayah Palestina sebagai sebuah tanah yang diajnjikan Tuhan kepada mereka untuk itu sedapat mungkin harus dapat mereka kuasai. Hal ini terlihat dengan jelas pada arogansi militer dan kaum Yahudi terhadap rakyat Palestina. Mereka membunuh tanpa pandang bulu terhadap rakyat, baik dari kalangan pejuang Palestina maupun rakyat sipil, baik dari anak-anak, perempuan sampai orang-orang tua mereka berondong peluru dan hujan bom. Ribuan bahkan jutaan rakyat Palestina sudah menjadi korban. Anehnya pembantaian etnis ini seperti sengaja dibiarkan, sehingga terjadinya berulang-ulang. PBB sepertinya tidak punya kuasa atas kedigdayaan bangsa laknat Israel yang mendapat dukungan kuat dari Amerika Serikat hingga saat ini. 
 
Filastin adalah negara yang status politiknya (diakui atau tidaknya sebagai sebuah negara) sampai saat ini masih dalam perdebatan. Namun negara-negara yang masuk menjadi anggota OKI, Liga Arab, Gerakan Non Blok, dan ASEAN sebagian besar telah mengakui kemerdekaan Negara Palestina. 
 
Tidaklah logis kiranya disaat sedang membahas Palestina – Israel kita tidak menyertakan urutan-urutan peristiwa penting yang pernah terjadi di Palestina. Berikut ini berbagai peristiwa sejarah yang pernah menghias panggung politik di Filastin tersebut, yang dapat kami himpun dari berbagai sumber. 
 
Tahun 1946 – Transyordania memperoleh mandat kemerdekaan dari Inggris Raya (Britania) atas Palestina. 
 
Tahun 1947 – PBB mengadopsi rencana partisi untuk solusi dua negara di wilayah yang tersisa dari mandat. Pihak pimpinan Yahudi menerima rencana ini sedangkan para pemimpin Arab dan Inggris menolak. Ditahun ini, pada malam terakhir penarikan Inggris dari Transyordania, Agensi Yahudi untuk Israel mendeklarasikan (menyatakan) berdirinya negara Israel sesuai dengan rencana PBB.
 
Pada tahun 1948 – Pecah Perang Arab – Israel, yaitu perang antara Transyordania, Mesir, dan negara-negara anggota Liga Arab lainnya melawan Israel dan negara- negara pendukung latennya. Selama perang, Israel memperoleh wilayah tambahan yang diharapkan menjadi bagian dari negara Arab di bawah rencana PBB. Mesir memperoleh kendali atas Jalur Gaza dan Transyordania mendapatkan kontrol atas Tepi Barat. Mesir awalnya mendukung terciptanya Pemerintahan Seluruh Palestina, tapi itu dibubarkan pada tahun 1959. Transyordania pernah mengenalinya dan malah memutuskan untuk memasukkan Tepi Barat dengan wilayahnya sendiri untuk membentuk Yordania. Aneksasi tersebut diratifikasi pada tahun 1950. 
 
Pada tahun 1964, ketika Tepi Barat dikontrol oleh Yordania, Organisasi Pembebasan Palestina didirikan di sana dengan tujuan untuk menghadapi Israel. Piagam Nasional Palestina PLO mendefinisikan batas-batas wilayah Palestina sebagai sisa seluruh mandat, termasuk Israel. 
 
Tahun 1967 – Terjadi Perang Enam Hari antara gabungan tentara Mesir, Yordania, dan Suriah melawan Israel dan sekutu latennya. Perang yang berlangsung selama enam hari ini dimenangkan oleh Israel dan sekutu latennya, akibatnya penguasaan Israel semakin meluas atas tanah Palestina. Ekspansi ini melibatkan seluruh Tepi Barat, yang tetap di bawah pendudukan Israel, dan Jalur Gaza, yang diduduki sampai penarikan mundur Israel tahun 2005. Tetapi, apakah menurut anda, Jalur Gaza betul-betul sudah bebas dari pendudukan Israel? Tetapi pernyataan pejabat senior Hamas, “Pendudukan Jalur Gaza sebagai bagian dari masa lalu”, cukup melegakan walaupun timbul sedikit kebimbangan.  Setelah perang ini usai, PLO pindah ke Yordania. 
 
Setelah Israel menguasai wilayah Palestina dari Yordania dan Mesir, ia mulai membangun permukiman Israel di sana. Ini diorganisir ke Yudea dan Samariakabupaten (Tepi Barat), Hof Aza Regional Council (Jalur Gaza) di Distrik Selatan. Administrasi penduduk Arab dari wilayah ini dilakukan oleh Administrasi Sipil Israel Koordinator Kegiatan Pemerintah di Daerah dan oleh dewan kota lokal hadir sejak sebelum pengambilalihan Israel. 
 
September 1971 – terjadi suatu peristiwa yang disebut dengan peristiwa Black September yang menyebabkan PLO di pindah ke Libanon. 
 
Sejak tahun 1974 – Liga Arab mengakui PLO sebagai wakil sah tunggal rakyat Palestina, dan memperoleh status pengamat di Majelis Umum PBB. Pada waktu ini PLO sebagai wakil sah tunggal rakyat Palestina mendesak dan menegaskan kembali hak mereka untuk mendirikan negara merdeka. PLO yang notebane-nya sebagai entitas non negara berstatus sebagai pengamat sejak 22 November 1974. Sebagai pengamat PLO diberikan hak untuk berbicara di Majelis Umum PBB tanpa hak suara. 
 
Tahun 1979 – Mesir melalui perjanjian Camp David, mengisyaratkan sebuah akhir pada pengakuannya sendiri atas jalur Gaza. 
 
Pada tahun 1980, Israel memutuskan untuk membekukan pemilihan untuk dewan-dewan dan membentuk Liga Desa bukan, yang pejabat berada di bawah pengaruh Israel. Kemudian model ini menjadi tidak efektif untuk kedua Israel dan Palestina, dan Liga Desa mulai pecah, dengan yang terakhir ini adalah Liga Hebron, dibubarkan pada bulan Februari 1988. Seperti digambarkan dalam Persetujuan Oslo, Israel diizinkan PLO untuk mendirikan lembaga sementara administratif di wilayah Palestina, yang muncul dalam bentuk PNA. Itu diberikan sipil dan / atau Kontrol keamanan di beberapa daerah. 
 
Setelah tahun 1982 Perang Lebanon, PLO pindah ke Tunisia. 
 
Pada bulan Juli 1988, Yordania menyerahkan klaimnya ke Tepi Barat - dengan pengecualian perwalian atas Haram al-Sharif - untuk PLO. 
 
Pada 15 November 1988, PLO sementara di pengasingan (Aljiria, ibu kota Aljazair), mendeklarasikan pembentukan "Negara Palestina". Pada bulan berikutnya, segera diakui oleh banyak negara, termasuk Mesir, Yordania, dan Indonesia. Dalam Deklarasi Kemerdekaan Palestina. Negara Palestina digambarkan sebagai yang didirikan atas "wilayah Palestina", tanpa menyebutkan lebih lanjut. Karena itu, beberapa negara yang mengakui Negara Palestina dalam pernyataan mereka pengakuan merujuk pada "perbatasan 1967", dengan demikian mengakui sebagai wilayahnya hanya wilayah Palestina yang diduduki, dan bukan Israel. Selama negosiasi Persetujuan Oslo, PLO mengakui hak Israel untuk berdiri, dan Israel mengakui PLO sebagai wakil dari rakyat Palestina. 
 
Berbeda dengan kebanyakan negara di dunia yang mengumumkan kemerdekaannya setelah memperoleh Konsesi Politik dari negara penjajah, Palestina mengumumkan eksistensinya bukan karena mendapat konsesi politik dari negara lain, melainkan untuk mengikat empat juta kelompok etnis dalam satu wadah, yaitu negara Palestina. Dalam pengumuman itu ditetapkan pula bahwa Yerusalem Timur (akan) dijadikan ibu kota negara.
 
Setelah deklarasi kemerdekaan pada tanggal 15 November 1988, Majelis Umum PBB secara resmi “mengakui” proklamasi dan lebih memilih menggunakan sebutan Palestina ketika mengacu pada pengamat permanen Palestina. Dalam keputusan ini, PLO tidak berpartisipasi di PBB dalam kapasitasnya sebagai pemerintah Negara Palestina. Sejak tahun 1998, PLO diatur untuk duduk di Majelis Umum PBB segera setelah negara non anggota dan sebelum semua pengamat lain. 
 
Palestina terbagi menjadi dua entitas politik, yaitu wilayah yang diduduki oleh komunitas Israel dan yang masih dikuasai oleh Otoritas Nasional Palestina. Pada tanggal 15 November 1988 menyatakan kemerdekaannya dari Israel di Aljir oleh Dewan Nasional (PNC) Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). 
 
Pada tahun 1993, dalam Persetujuan Oslo, Israel mengakui tim negosiasi PLO sebagai "mewakili rakyat Palestina", dengan imbalan PLO mengakui hak Israel untuk eksis dalam damai, penerimaan resolusi Dewan Keamanan PBB 242 dan 338, dan penolakannya terhadap "kekerasan dan terorisme". Sementara Israel menduduki wilayah Palestina, sebagai hasil dari Persetujuan Oslo, PLO mendirikan sebuah badan administratif sementara: Otoritas Nasional Palestina (PNA atau PA), yang memiliki beberapa fungsi pemerintahan di bagian Tepi Barat dan Jalur Gaza. Pengambilalihan Jalur Gaza oleh Hamas membagi wilayah Palestina secara politik, dengan Fatah yang dipimpin oleh Mahmoud Abbas menguasai Tepi Barat dan diakui secara internasional sebagai Otoritas Palestina resmi, sementara Hamas telah mengamankan kekuasaannya atas Jalur Gaza. Pada bulan April 2011, kedua pihak telah menandatangani perjanjian rekonsiliasi, tetapi pelaksanaannya masih terbengkalai. 
 
Antara 1993 dan 1998, PLO membuat komitmen untuk mengubah ketentuan Piagam Nasional Palestina yang tidak sejalan dengan tujuan untuk solusi dua negara dan hidup berdampingan secara damai dengan Israel.
 
Pada tahun 2005, menyusul pelaksanaan rencana pemisahan diri sepihak Israel, PNA menguasai penuh Jalur Gaza dengan pengecualian perbatasan, udara, dan perairan teritorial.
 
Setelah konflik antar-Palestina pada tahun 2006, Hamas mengambil alih kontrol Jalur Gaza, dan Fatah menguasai Tepi Barat (dan seluruh lembaga PNA). Saat ini Jalur Gaza diatur oleh Hamas, dan Tepi Barat oleh Fatah.
 
Hingga 18 Januari 2012, 129 (66,8%) dari 193 negara anggota PBB telah mengakui Negara Palestina. Banyak negara yang tidak mengakui Negara Palestina tetap mengakui PLO sebagai "wakil rakyat Palestina". Selain itu, komite eksekutif PLO diberdayakan oleh PNC untuk melakukan fungsi pemerintah Negara Palestina.

Artikel dengan judul Peristiwa-Peristiwa Penting di Palestina ini mengacu dari beberapa sumber terutama dari wikipedia Indonesia. Besar harapan saya artikel ini dapat memuaskan keingintahuan bagi pembaca dan dapat menambah sedikit pengetahuan kita tentang peristiwa sebenarnya yang terjadi di tanah Palestina. Terima kasih dan sampai jumpa.


Comments