Tragedi Kota Pompeii

Tragedi Kota Pompeii
Peta Posisi Kota Pompeii
Posisi Kota Pompeii. Pompeii terletak pada koordinat 400 45’0” LU 140 29’10” BT, sebelah tenggara kota Napoli, dekat dengan kota modern Pompei saat ini. Kota ini berdiri di lokasi yang terbentuk dari aliran lava ke arah utara di hilir Sungai Sarno (zaman dulu bernama “Sarnus”). Saat ini daratan ini agak jauh letaknya di daratan, namun dahulu merupakan daerah yang dekat dengan pantai
.
Pada abad pertama M, Pompeii hanyalah salah satu dari sekian kota yang berlokasi di sekitar kaki Gunung Vesuvius. Wilayah ini cukup besar jumlah penduduknya yang menjadi makmur karena daerah pertaniannya subur. Beberapa kelompok kota kecil di sekitar Pompeii seperti Herculaneum juga menderita kerusakan atau kehancuran oleh tragedi letusan Vesuvius.

Sejarah Berdirinya Kota Pompeii. Kota Pompeii didirikan oleh orang-orang Osci atau Oscan, yaitu suatu kelompok masyarakat yang ada di Italia Tengah sekitar abad ke-6 SM. Pada waktu itu kota Pompeii sudah menjadi kota pelabuhan yang aman bagi pelaut-pelaut Yunani dan Fenisia. Bersama sekutunya orang-orang Yunani, kota Pompeii berhasil menaklukkan dan menguasai Teluk Napoli. Penaklukan ini sebagai akibat kelanjutan dari ancaman serangan oleh orang-orang Etruskan terhadap kota Pompeii. Ketika kota Pompeii bersama dengan semua kota di Campania (wilayah di Italia Selatan) dikuasai oleh orang-orang Samnium pada abad ke-5 SM, wajah kota ini diubah secara paksa dengan gaya arsitektur Samnium dan kota Pompeii semakin di perluas.
Tragedi Kota Pompeii
Pompeii Ruin

Pompeii ikut dengan kota-kota Campania (“yang merupakan pencetus perang”) melakukan peperangan melawan Roma. Namun pada tahun 89 SM kota ini (Pompeii) dikepung oleh Lucius Cornelius Sulla Felix, yang lebih terkenal dengan sebutan Sulla saja. Sulla ini adalah seorang jenderal, negarawan dan diktator Romawi. Kota Pompeei akhirnya menyerah walaupun sudah mendapatkan bantuan dari tentara Liga Sosial pimpinan Lucius Cluentius. Pompeei dipaksa menyerah setelah kota Nola (wilayah Campania-Napoli) di Italia Selatan ditaklukkan. Pompeii kemudian di masukkan menjadi koloni Roma dengan nama Colonia Cornelia Verenia Pompeianorum.

Kondisi dan Arsitektur Kota Pompeii. Kota Pompeii memiliki penduduk sebelum letusan gunung Vesuvius berjumlah 20.000 orang dan berlokasi di area dimana orang-orang Roma memiliki vila-vila liburan mereka. Fakta menyatakan bahwa Pompeii merupakan satu-satunya situs kota kuno di mana keseluruhan struktur topografinya dapat diketahui dengan pasti tanpa memerlukan modifikasi atau penambahan. Kota ini tidak dibagi sesuai dengan pola-pola kota Romawi pada umumnya dikarenakan permukaan tanah yang tidak datar (kota ini berada di kaki gunung). Namun jalan-jalan di kota ini dibuat lurus dan berpola pada tradisi murni Romawi kuno, permukaan jalan terdiri dari batu-batu poligon dan memiliki bangunan-bangunan rumah dan toko-toko di kedua sisi jalan, mengikuti decumanus dan cardusnya. Decumanus adalah jalan-jalan yang merentang dari timur ke barat, sementara cardus merentang dari utara ke selatan.
Tragedi Kota Pompeii

Pompeii merupakan kota yang subur dan juga merupakan kota yang sangat ramai dan hidup sebelum terjadinya letusan. Bukti-bukti memberi petunjuk hingga ke hal yang sangat mendetail dari kehidupan sehari-hari mereka. Misalnya, pada lantai sebuah rumah (rumah Sirico) sebuah tulisan terkenal Salve, lucru (Selamat datang, uang), mungkin dimaksudkan sebagai humor, menunjukkan kepada kita perusahaan perdagangan yang dimiliki oleh dua sejawat, Sirico dan Nummianus (namun nama ini mungkin hanya julukan, karena nummus berarti mata uang, uang). Di rumah-rumah lainnya, terdapat banyak gambaran terinci mengenai profesi dan kategori, seperti pekerja binatu (Fullones). Kendi-kendi anggur bertuliskan Vesuvinum (istilah permainan kata dalam perdagangan). Grafiti (coretan-coretan pada dinding) yang dipahat di dinding memberitahu kita akan nama suatu jalan.
Tragedi Kota Pompeii
Jalanan di Kota Pompeii


Tragedi Kota Pompeii
Teatro Grande
Banyak pelayanan yang disediakan di kota Pompeii ditemukan, misalnya: Macellum (pasar
raya menyediakan makanan), Pistrinum (penggilingan gandum), Thermopolium (sejenis bar yang menyediakan minuman dingin dan panas), cauporioe (restoran kecil), dan sebuah amfiteater. Di hilir sungai Sarno juga memiliki penduduk yang banyak dan para penduduknya tinggal di desa dengan rumah-rumah yang menjorok di atas danau (palaffite), dalam sebuah sistem kanal yang menurut para ilmuwan, menyerupai kanal-kanal di Venesia.

Tragedi Kota Pompeii
Palaestra Pompeii
Menurut Steven Ellis, salah satu tim arkeolog University of Cincinnati, penggalian situs menghasilkan analisis arkeologi terkait hunian lengkap dimana situs itu juga menyimpan pusat bisnis yang terletak disalah satu gerbang tersibuk di Pompeii, Porta Stabia. Wilayah situs mencakup 10 bidang bangunan terpisah dan memiliki 20 bangunan toko yang sebagian besar menjual makanan dan minuman. Salah satu diantara bukti yang diperiksa merupakan limbah yang diperoleh dari saluran air dan 10 kakus. Limbah makanan yang ditemukan berupa makanan mineral berasal dari dapur dan kotoran manusia, salah satunya adalah sisa makanan terutama biji-bijian. Materi yang dianalisis dari saluran air pembuangan mengungkapkan berbagai kuantitas bahan yang sangat jelas membedakan sosial dan ekonomi antara kegiatan dan kebiasaan konsumsi masing-masing properti, termasuk diantaranya limbah dari penginapan.

Temuan limbah makanan mengungkapkan jenis konsumsi murah dan elit seperti buah-buahan, kacang, zaitun, ikan lokal dan telur ayam, serta potongan daging yang harganya jauh lebih mahal. Selain itu, limbah kotoran yang ditemukan dari saluran air tetangga juga mengungkapkan adanya perbedaan sosial ekonomi antara tetangga. Saluran dari properti pusat diidentifikasi mengandung berbagai makanan kelas atas yang mungkin diperoleh secara impor dari luar Italia, salah satunya kerang, landak laut hingga kaki jerapah. Tulang kaki jerapah dianggap sebagai makanan eksotis dan ditegaskan bahwa fakta ini dianggap sebagai satu-satunya bukti yang pernah tercatat di penggalian arkeologi Romawi di Italia. Berbagai makanan saji yang disediakan oleh restoran di kota Pompeii tidak hanya menggambarkan adanya perdagangan dari wilayah jauh, tetapi juga menggambarkan kekayaan dan makanan diet kaum non elit. Salah satu bukti adanya perdagangan dari negara lain adalah impor rempah-rempah yang hanya bisa diperoleh dari wilayah Indonesia.

Tragedi Kota PompeiiKarena kehidupan yang  makmur dan enak, penduduk kota Pompeii menuruti semua kehendak nafasunya dan berlaku sombong, seolah-olah tidak ada akhir dari kehidupan. Menurut catatan sejarah bahwa kota tersebut ternyata merupakan pusat kemaksiatan dan kemungkaran. Kota tersebut dipenuhi oleh meningkatnya jumlah lokasi perzinahan atau prostitusi. Saking banyaknya hingga jumlah rumah-rumah pelacuran tidak diketahui. Organ-organ kemaluan pria dengan ukurannya yang asli digantung di pintu tempat-tempat pelacuran tersebut. Menurut tradisi ini, yang berakar pada kepercayaan Mithraic, organ-organ seksual dan hubungan seksual sepatutnya tidaklah tabu dan dilakukan di tempat tersembunyi, akan tetapi hendaknya dipertontonkan secara terbuka.






Gunung Vesuvius Mengubur Pompeii Bersama Semua Penduduknya.

Ketika suatu kaum sudah melampaui batas, tibalah saatnya bagi kaum tersebut mendapatkan cobaan berupa bencana yang dahsyat dari Allah SWT, begitu pula dengan penduduk kota Pompeii dan sekitarnya. Peringatan dan hukuman Allah pun datang melaui gunung Vesuvius. Gunung Vesuvius merupakan gunung berapi yang sangat aktif. Kota-kota yang berada di kaki Vesuvius sering mengalami getaran-getaran kecil, tidak terkecuali kota Pompeii. Pada tanggal 5 Pebruari 62 terjadi gempa bumi yang cukup hebat yang menimbulkan kerusakan yang cukup besar khususnya bagi Pompeii, sebagian dari kerusakan itu masih belum diperbaiki ketika gunung berapi itu meletus. Tetapi ada yang berpendapat bahwa gempa bumi itu terjadi karena kegiatan tektonik, bukan dari aktivitas magma gunung berapi tersebut.

Seorang penulis Plinius Muda (61 – 112 M) menulis bahwa bahwa getaran bumi itu "tidaklah begitu menakutkan karena sering terjadi di Campania".
Tragedi Kota Pompeii
Pasangan Muda-Mudi

Pada awal Agustus tahun 79, mata air dan sumur-sumur mengering. Getaran-getaran gempa ringan mulai terjadi pada 20 Agustus 79, dan menjadi semakin sering pada empat hari berikutnya, namun peringatan-peringatan itu tidak disadari orang, dan pada sore hari tanggal 24 Agustus, sebuah letusan gunung berapi yang mematikan terjadi. Ledakan itu merusakkan wilayah tersebut, mengubur Pompeii dan daerah-daerah pemukiman lainnya. Kebetulan tanggal itu bertepatan dengan Vulcanalia, perayaan dewa api Romawi.

Laporan saksi mata satu-satunya yang bertahan dan dapat diandalkan tentang peristiwa ini dicatat oleh Plinius Muda dalam dua pucuk surat kepada sejarahwan Tacitus. Dari rumah pamannya di Misenum, sekitar 35 km dari gunung berapi itu, Plinius melihat sebuah gejala luar biasa yang terjadi di atas Gn. Vesuvius: sebuah awan gelap yang besar berbentuk seperti pohon pinus muncul dari mulut gunung itu. Setelah beberapa lama, awan itu dengan segera menuruni lereng-lereng gunung dan menutupi segala sesuatu di sekitarnya, termasuk laut yang di dekatnya.

"Awan" yang digambarkan oleh Plinius Muda itu kini dikenal sebagai aliran piroklastik, yaitu awan gas yang sangat panas, debu, dan batu-batu yang meletus dari sebuah vulkano. Plinius mengatakan bahwa beberapa gempa bumi terasa pada saat letusan itu dan diikuti oleh getaran bumi yang dahsyat. Ia juga mencatat bahwa debu juga jatuh dalam bentuk lapisan-lapisan yang sangat tebal dan desa tempat ia berada harus dievakuasi. Laut pun tersedot dan didorong mundur oleh suatu "gempa bumi", sebuah gejala yang disebut oleh para geolog modern sebagai tsunami. Gambarannya lalu beralih kepada fakta bahwa matahari tertutup oleh letusan itu dan siang hari menjadi gelap gulita.

Tragedi Kota Pompeii
Korban Memfosil
Lava gunung Vesuvius dan lapisan debu tebal mengubur dua buah kota yang berada di kaki gunung tersebut (Pompeii dan Herculaneum). Kedua kota tersebut hilang dan terlupakan selama 16 abad.. ketika kota Herculaneum ditemukan kembali pada 1738, dan Pompeii pada 1748. Kedua kota ini digali kembali dari lapisan debu tebal dengan membebaskan semua bangunan-bangunan dan lukisan dinding yang masih utuh. Mayat-mayat bergelimpangan, secara umum dengan ekspresi wajah ketakutan juga ditemukan dalam keadaan utuh masih dalam posisi sesaat sebelum mereka tewas. 

Hampir bisa dipastikan bahwa para penduduk yang ada di kota tersebut tidak mengetahui terjadinya bencana yang sangat sekejap tersebut, wajah mereka terlihat berseri-seri. Jasad dari satu keluarga yang sedang asyik menyantap makanan terawetkan pada detik tersebut. Banyak sekali ditemukan pasangan-pasangan, baik dari kaum mudanya sampai kaum dewasa yang tubuhnya terawetkan berada pada posisi sedang melakukan persetubuhan. Di antara mayat dalam posisi bersetubuh tersebut terdapat beberapa pasangan yang berkelamin sama, melakukan hubungan homoseks.

Demikianlah peristiwa "Tragedi Kota Pompeii" yang telah terjadi pada masa lampau yang telah dapat diungkap dan disajikan oleh para ahli (arkeolog dan geolog)  kehadapan kita. Semoga hal ini bisa menjadi pelajaran yang sangat berarti kepada kita semua. Amin. 

Dari berbagai sumber


Comments