SEJARAH KERAJAAN TARUMANEGARA

SEJARAH KERAJAAN TARUMANEGARA

Kerajaan Tarumanegara terletak di Jawa Baret tepatnya di Bogor sekarang. Kerajaan ini berdasarkan peninggalan sejarah yang telah ditemukan diperkirakan ada pada tahun 450 Masehi, di awal abad ke-5. Ibu kota kerajaan ini terletak di Jayasinghapura. Nama Tarumanegara diduga berasal dari kata taruma yang berarti nila. Para ahli belum dapat memastikan keterkaitan nama Tarumanegara dengan nama sebuah sungai, yakni Citarum yang mengalir di Jawa Barat.
 
SEJARAH KERAJAAN TARUMANEGARA
Wilayah Kekuasaan Kerajaan Tarumanegara

Raja yang memerintah Kerajaan Tarumanegara adalah Raja Purnawarman, penganut ajaran Hindu. Dalam salah satu prasasti peninggalan kerajaan ini, yakni prasasti Tugu (terdapat di Jakarta) disebutkan bahwa Raja Purnawarman telah menggali Sungai Gomati dalam masa pemerintahan yang ke-22. Panjang sungai 6.122 busur atau sekitar 12 kilometer yang dikerjakan dalam jangka waktu 21 hari. Sungai Gomati ini dibuat setelah sebelumnya masyarakat selesai melakukan penggalian Sungai Chandrabagha. Pada akhir pekerjaan penggalian, Raja Purnawarman kemudian memberikan hadian 1.000 ekor lembu kepada para brahmana.
 
Sungai Gomati dibuat dengan maksud untuk mengatisipasi banjir yang sering terjadi karena curah hujan yang sangat tinggi di wilayah kerajaan tersebut. Ini menandakan bahwa Raja Purnawarman sangat perhatian kepada kesejahteraan dan keamanan rakyatnya. Penggalian ini dilakukan dengan gotong royong dan tanpa pemaksaan terhadap rakyat.
 

Kehidupan Beragama, Sosial dan Ekonomi Masyarakat

 
Seperti yang telah kita singgung di atas, Raja Purnawarman menganut ajaran Hindu, ini menandakan bahwa pengaruh agama Hindu sudah masuk ke kalangan istana. Walaupun begitu tidak semua penduduk Tarumanegara memeluk agama Hindu. Ada sebagian dari masyarakat yang masih menganut “agama kotor” (animisme) dan ada juga yang memeluk agama Buddha walaupun jumlahnya sangat sedikit.
 
Kehidupan sosial masyarakat Tarumanegara sudah teratur dan berjalan dengan baik. Gotong royong sudah terjalin dan sudah mampu menciptakan stabilitas politik di wilayahnya.
 
Mata pencaharian penduduk adalah pertanian, perternakan, perikanan, perburuan binatang, pelayaran, perdagangan, dan pertambangan. Kegiatan pertanian dititik beratkan pada pertanian padi, perternakan lembu, kegiatan perikanan berupa produk kulit penyu, sedangkan untuk perburuan binatang, yang diburu adalah binatang yang diambil dagingnya untuk konsumsi dan juga berburu badak dan gajah yang diambil cula dan gadingnya untuk bahan perdagangan yang dapat di ekspor. Adapun usaha pertambangan berdasarkan berita dari Cina, yang dilakukan adalah pertambangan emas, perak, dan benda perunggu.
 
Untuk bidang kesenian, Kerajaan Tarumanegara terkenal dengan seni patungnya. Hal ini diketahui dari penemuan dua arca Wisnu di Desa Cibuaya, Karawang. Bentuk kedua Arca memperlihatkan aliran seni di Jawa Barat pada saat itu. Arca ini ternyata mempunyai persamaan dengan langgam seni patung dari India pada abad ke-7 Masehi. Beberapa ahli menyimpulkan bahwa Tarumanegara sempat menjadi salah satu pusat seni pada abad itu.
 

Bukti-Bukti Keberadaan Kerajaan Tarumanegara

 
Bukti tentang keberadaan dari Kerajaan Tarumanegara ini dapa diketahui dari berbagai prasasti yang mengjadi peninggalah kerajaan tersebut. Semua prasasti yang ditemukan ditulis dengan huruf Pallawa dengan bahasa Sanskerta, dalam bentuk syair. Selain prasasti-prasasti keberadaan kerajaan ini juga dapat dibuktikan dari berita-berita dari para pengelana Cina yang pernah ke Tarumanegara, yang dalam bahasa Cina disebut To-lo-mo.
 
Berikut ini, kita sebutkan beberapa prasasti dan kabar dari Cina yang menjadi bukti keberadaan dari Kerajaan Tarumanegara ini.
 
a. Berita dari Cina pada masa dinasti Sui dan dinasti Tang Muda menyebutkan bahwa ada kerajaan bernama To-Lo-Mo, yaitu Taruma yang beberapa kali mengirimkan utusan ke Cina pada tahun 669. Catatan pendeta Cina Fa-Hien mengatakan ketika ia singgah di Tarumanegara selama lima bulan, dalam perjalan pulangnya dari India ke Cina. Mengatakan bahwa di bandar-bandar kerajaan Tarumanegara penduduknya telah memeluk agama Hindu.
 
b. Prasasti Ciaruteun atau disebut prasasti Sang Hyang Tapak karena pada prasasti tersebut terdapat sepasang tapak kaki raja seperti kaki Dewa Wisnu. Isi prasasti ini menggambarkan bahwa raja dan rakyat Kerajaan Tarumanegara menganut agama Hindu Wisnu.
 
c. Prasasti Kebon Kopi. Di dalamnya terdapat gambar dua telapak kaki gajah. Tulisan di prasasti itu adalah “Di sini tampak sepasang dua telapak kaki seperti airawata, gajah penguasa Taruma yang agung dan jaya”.
 
d. Prasasti Jambu, yaitu berisi sanjungan, kebesaran, kegagahan, dan keberanian Raja Purnawarman.
 
e. Prasasti Tugu. Isi prasasti itu tentang berita penggalian Sungai Gomati, seperti yang telah kita kemukakan di atas.
 
f. Prasasti Pasir Awi, yaitu prasasti yang ditulis dengan huruf ikal dan belum dapat dibaca. Dalam prasasti ini juga terdapat sepasang tapak kaki.
 
g. Prasasti Lebak, yaitu prasasti yang memuji kebesaran dan keagungan Raja Purnawarman. Prasasti ini disebut juga prasasti Cidanghiang karena ditemukan di tepi sungai Cidanghiang, Banten. Prasasti ini ditulis dalam huruf Pallawa.
 
h. Prasasti Muara Cianten di Bogor. Dalam prasasti ini juga terdapat sepasang telapak kaki seperti yang tampak pada prasasti Ciaruteun.
 

Masa Kemunduran atau Keruntuhan

 
Belum terdapat sumber yang jelas tentang masa-masa kemunduran dan keruntuhan dari Kerajaan Tarumanegara ini. Berita Cina hanya menyebutkan bahwa utusan terakhir Tarumanegara yang datang ke negaranya, yaitu pada tahun 666 dan 669 Masehi. Itulah sebabnya, beberapa ahli sejarah menduga Kerajaan Tarumanegara runtuh pada abad ke-7.


Comments